Dilema Kuliah Online di Masa Pandemi Corona

“Waktu dosen lagi menjelaskan materi, ada mahasiswa yang ketahuan lagi nonton karena mikrofonnya nggak dimatikan,” cerita Andrian Putra, salah seorang mahasiswa Public Relations  angkatan 2019 di London School of Public Relations.

“Suaranya kaya cewek Korea lagi marah-marah. Feeling gue, sih, The World of The Married,” sambungnya diiringi gelak tawa mengingat kejadian tersebut. 

Mulai pertengahan Maret 2020 ini, Andrian dan mahasiswa lainnya harus belajar menyesuaikan diri terhadap sistem perkuliahan yang sama sekali baru bagi mereka: pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau juga sering dikenal dengan kuliah online.

Kebijakan ini dilakukan oleh banyak kampus sebagai upaya pencegahan penularan wabah COVID-19 yang semakin tak terkendali. Ini juga sehubungan dengan surat edaran yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19).

Imbauan pemerintah itu membuat instansi pendidikan harus melakukan PJJ. Banyak di antaranya menyiasati dengan memanfaatkan berbagai aplikasi teleconference. Mulai dari Zoom yang pertama kali rilis pada 2011 dan menawarkan fitur breakout room sebagai salah satu keunggulannya hingga Skype, aplikasi teleconference yang sudah sangat senior di kelas aplikasi serupa.

Perbandingan 6 Aplikasi Teleconference yang paling sering digunakan di Indonesia
(Sumber data: Riset mandiri dihimpun dari situs masing-masing aplikasi)

Setiap aplikasi teleconference memiliki keunggulannya masing-masing yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perkuliahan. “Kalau kita biasanya yang digunakan itu fasilitas share screen, untuk dosen atau mahasiswa presentasi. Kadang-kadang juga ada dosen yang pakai fasilitas breakout room untuk tugas kelompok. Dan, yang paling ditunggu mahasiswa sih waktu dosen ngasih remote control ke ketua kelas untuk verifikasi absen. Hahaha,” cerita Edgar Kenneth Abraham, mahasiswa Jurnalistik angkatan 2017 di Universitas Multimedia Nusantara. 

Selain Zoom, aplikasi Microsoft Teams juga memiliki fitur yang unik. “Ada yang namanya “Posts“, jadi tiap kali kita mau absen, dosen tinggal ketik ‘Absen di sini ya’ terus tinggal kita reply dengan komentar ‘Hadir’ dan juga di post itu memungkinkan buat kita ngumpulin tugas sama laporan, dan juga dosen tiap selesai pelajaran bisa langsung kasih materi slide-nya dalam Posts itu, dan nggak hilang, jadi kalau kedepannya kita mau cari materi dan cek tugas udah dikumpulin atau belum tinggal cari aja di Posts itu,” cerita Ivan Andry, mahasiswa Automotive and Robotics Engineering angkatan 2017 di Binus ASO.

Bagaimana pelaksanaan perkuliahan online di Jakarta dan Tangerang?

Pelaksanaan PJJ dengan bantuan aplikasi teleconference ini tak terkecuali dilakukan juga di Jakarta dan Tangerang. Namun, sistem perkuliahan ini dinilai kurang efektif bagi sebagian mahasiswa, seperti Aprilia Aileen, mahasiswi Bisnis Perhotelan angkatan 2018 di Universitas Podomoro. Menurutnya, tingkat efektivitas perkuliahan menurun karena dengan sistem PJJ ini mahasiswa berpotensi untuk kuliah sembari melakukan aktivitas lain sehingga tidak fokus pada materi yang sedang disampaikan. 

Tingkat Efektivitas dalam Pelaksanaan Perkuliahan Jarak Jauh dan Aplikasi Teleconference yang digunakan oleh Perguruan Tinggi di Jakarta dan Tangerang
(Sumber data: Survey mandiri)

Hasil dari survei yang dilakukan terhadap 41 sampel mahasiswa di 12 perguruan tinggi yang ada di Jakarta dan Tangerang perihal efektivitas PJJ juga menunjukkan hasil yang relatif sama dengan penuturan Aprilia. Sebanyak 36,1% mahasiswa merasa bahwa perkuliahan yang dilakukan menjadi tidak terlalu efektif. Namun, karena tidak ada jalan lain, metode kuliah semacam ini tetap menjadi opsi terbaik bagi banyak perguruan tinggi. Aplikasi Zoom menjadi sarana yang paling populer. 

Senada dengan Aprilia, Dionisius Kurniawan, mahasiswa Psikologi angkatan 2018 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), perbedaan suasana belajar setiap mahasiswa juga membuat perkuliahan menjadi tidak seefektif perkuliahan tatap muka karena lebih banyak distraksi yang bisa terjadi. “Kalau biasanya di kelas ketemu teman, bisa sambil bercanda, sekarang jadi nggak bisa,” imbuhnya.

Sistem PJJ di setiap perguruan tinggi pun tidak seragam. Jika aplikasi video conference digunakan dengan optimal pada perkuliahan di UNJ dan Universitas Podomoro, lain halnya dengan kebijakan di Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) karena instansi pendidikan yang berlokasi di Ciputat tersebut hanya menggunakan aplikasi teleconference Zoom di waktu-waktu tertentu.

“Biasanya kami menggunakan Zoom hanya untuk membahas materi yang sudah diberikan sebelumnya, tapi itu juga tergantung dengan dosen pengampunya. Ada yang hanya mengirimkan materi berupa slide tanpa pembahasan selanjutnya, ada yang meminta mahasiswanya sekadar mengerjakan tugas, dan ada juga yang meminta mendengarkan podcast karyanya yang diikuti dengan pemberian feedback,” tutur Agustio Ferio, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2017 di UPJ. 

Pria yang akrab disapa Tio itu menceritakan bahwa kampusnya menggunakan Zoom hanya di saat tertentu agar mahasiswa menerapkan sistem belajar mandiri melalui slide yang telah dibagikan sebelum dibahas bersama dengan dosen.

Lonjakan unduhan aplikasi teleconference

Aplikasi teleconference menjadi hal penting yang wajib dimiliki selama kelangsungan perkuliahan di masa pandemi saat ini. Dengan adanya imbauan meminimalisir aktivitas di luar, kegiatan-kegiatan yang sebelumnya harus dilakukan secara tatap muka dapat ditunjang oleh aplikasi teleconference. 

Mulai dari kegiatan rapat untuk keperluan pekerjaan, kegiatan pendidikan, hingga obrolan santai bersama teman dan keluarga dapat dilakukan melalui aplikasi-aplikasi tersebut. Hal ini membuat adanya kenaikan jumlah unduhan dalam waktu 1 bulan di Maret.

Perbandingan Unduhan Aplikasi Teleconference di Play Store dan App Store
Periode Maret 2020.
(Sumber data: Sensortower.com. Infografis interaktif akses di sini)

Situs riset aplikasi, sensortower.com mencatat Zoom mengalami kenaikan pengunduhan paling banyak dengan jumlah 43% dari seluruh unduhan aplikasi teleconference di Maret 2020. Aplikasi teleconference yang baru dirilis pada 2011 ini unggul jauh dari para pendahulunya, Google Hangout dan Microsoft Teams, serta Houseparty yang rilis pada 2016. 

Menurut Valencia Salim, mahasiswa Teknologi Pangan angkatan 2017 di Universitas Pelita Harapan, aplikasi teleconference Zoom lebih banyak digunakan karena fitur yang dimiliki lebih beragam dibandingkan dengan aplikasi teleconference lainnya, salah satunya fitur breakout room yang memungkinkan adanya grup-grup kecil dalam satu pertemuan. “Fitur ini cukup membantu, karena kalau di kuliah normal, biasanya kita juga ada kelompok-kelompok praktikum,” tuturnya.

Namun, dengan adanya Zoom, tidak berarti dosen hanya meminta mahasiswanya untuk melakukan tugas secara daring. Pengalaman lucu dialami Valencia ketika dosennya meminta untuk mengirimkan tugas bukan melalui surel ataupun portal kuliah daring, melainkan dalam bentuk paket yang dikirim dengan kurir ke kediaman dosennya di Bogor. 

Kebutuhan kuota internet yang melonjak

Dengan memanfaatkan aplikasi teleconference, kegiatan perkuliahan menjadi sangat tergantung pada koneksi internet. Perkuliahan akan sangat terganggu apabila dosen atau mahasiswa memiliki keterbatasan dalam akses internet ini. Entah sinyal yang hilang dan muncul kembali atau kuota yang cepat habis.

Jumlah Kuota Terpakai Penggunaan Aplikasi Teleconference 1 Jam
(Sumber data: Riset pribadi. Infografis interaktif akses di sini)

Skype menjadi yang paling boros kuota dibanding kompetitornya Zoom dan Google Hangout.  Google Hangout, sebagai aplikasi yang dirilis oleh Google, hanya tersedia sebagai aplikasi bawaan bagi ponsel dengan fitur Android, sedangkan Apple harus mengunduhnya terlebih dahulu. Selain faktor fasilitas, alasan ini pula yang bisa jadi mendasari banyak perguruan tinggi, terutama di Jakarta dan Tangerang yang lebih memilih menggunakan Zoom sebagai sarana kuliahnya. 

Beberapa kampus melakukan kerjasama dengan penyedia layanan internet sebagai solusi hemat untuk mahasiswanya. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Jakarta yang bekerjasama dengan XL dan Indosat. Mereka memberikan kuota internet sejumlah Rp50.000,00 /bulan terhitung dari April 2020 sampai semester genap berakhir di Juni 2020 secara cuma-cuma bagi mahasiswanya.

“Bantuan dari fakultas ini diberikan bagi seluruh mahasiswa supaya dapat mengikuti perkuliahan, tidak hanya bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan dalam mengakses internet. Kuotanya dapat diperoleh dengan melakukan pengajuan ke pihak fakultas,” jelas Febryan Sutomo, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2017 di Universitas Atma Jaya Jakarta.

Namun, kuota tersebut hanya dapat digunakan untuk membuka situs-situs yang mendukung sistem perkuliahan, seperti e-learning dan Microsoft Teams.

Tidak mudah, tetapi harus dihadapi

Proses adaptasi ini mau tidak mau harus dilakukan dan dihadapi oleh mahasiswa dalam masa pandemi ini. Tidak hanya mahasiswa, tetapi pendidik juga merasakan kesulitan dalam pelaksanaan kuliah online

Yunia Panjaitan, seorang dosen pengampu mata kuliah Analisis Laporan Keuangan di Universitas Atma Jaya Jakarta, menuturkan bahwa kebanyakan hambatan yang ia hadapi datang dari segi teknis. Salah satunya adalah masalah koneksi yang seringkali membuat perkuliahan menjadi macet. “Koneksi saya yang macet-macet itu sering dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk meninggalkan kelas sebelum perkuliahan selesai,” tuturnya. 

Tak hanya persoalan teknis, dengan bekerja dari rumah, dosen juga harus membagi perannya sebagai tenaga pengajar sekaligus orang tua. Hal ini dialami oleh Albertus Magnus, dosen pengampu beberapa mata kuliah jurnalistik di Universitas Multimedia Nusantara. “Saya punya anak berusia 1.5 tahun. Dia menangis saat ibunya sedang mandi sehingga saya harus mengajaknya ikut kuliah. Semua mahasiswa senang dan tertawa saat wajahnya muncul di layar laptop,” ceritanya melalui wawancara yang dilakukan via WhatsApp.

PJJ dapat digolongkan sebagai sistem baru bagi sebagian instansi pendidikan yang sebelumnya hanya melakukan perkuliahan tatap muka sehingga dalam pelaksanaannya tidak sedikit ditemukan kendala. Misalnya, waktu perkuliahan yang hanya dapat dilakukan dalam 40 menit karena keterbatasan durasi dari aplikasi teleconference sehingga materi tidak dapat dibahas sampai tuntas, jumlah tugas yang harus dikerjakan meningkat dengan waktu pengumpulan yang kurang disesuaikan, dan terhambatnya asistensi karya dalam bentuk fisik. Namun, jika dilihat dari perspektif lain, keadaan ini membuat mahasiswa harus belajar secara mandiri.

Mau tidak mau, senang tidak senang, kita harus bisa adaptif dalam menghadapi situasi pandemi ini. Amber Neely, Associate Editor dari Media Teknologi Apple Insider memberikan beberapa tips agar PJJ dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Jika dilihat dari konteks situasi, sistem PJJ ini dapat dikatakan efektif karena kegiatan belajar mengajar dan agenda kalender akademik tetap berjalan seperti biasanya. Namun, jika dari konteks kualitas, efektivitas perkuliahan online bergantung pada kedisiplinan setiap individu yang terlibat dan bagaimana menghadapi proses adaptasi yang terus berlangsung.

Kita semua tentu menunggu kapan pandemi Covid-19 ini berakhir, berharap untuk kembali beraktivitas seperti biasa lagi. Namun, lewat masa pandemi ini, setidaknya kita dipaksa untuk dapat memanfaatkan teknologi dengan lebih baik lagi, terutama dalam menunjang pendidikan. Jika sebelumnya kita seakan asing dengan aplikasi teleconference dan aplikasi yang membantu PJJ lainnya, sekarang kita mau tidak mau harus belajar menggunakannya. Ketika semua nanti menjadi normal, kita akan mendapat new normal itu: pendidikan berbasis teknologi yang mendukung pertemuan tatap muka.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s