‘Ledakan’ Pandemi di Korea Selatan dan Pentingnya Physical Distancing

“Hmm, nonton drama Korea apa ya?” gumamnya di depan layar. Kedua matanya terfokus ke mesin pencari dan jemarinya mencari-cari drama Korea yang akan dijadikannya pelepas penat usai mengerjakan soal ujian. 

Queenshell Lovevinca (20) seorang mahasiswi jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara, kini tengah menjalani Ujian Tengah Semester via online. Ya, kebijakan itu dilakukan oleh kampusnya sebagai upaya pencegahan penularan wabah COVID-19 yang jumlah penderitanya terus bertambah dan tidak terkontrol setiap harinya, termasuk di Indonesia. Kebijakan ini kita kenal sebagai self quarantine atau physical distancing

Grafik 1.1 Jumlah Pasien Positif COVID-19 di Seluruh Dunia
(22 Januari – 25 Maret 2020)

Sumber Data: Data Repository by Johns Hopkins CSSE. Infografis interaktif akses di sini.

Hasil pencarian yang muncul di layar laptop ketika ia mengetik “drama Korea” berhasil menyita perhatiannya. “Save Me, Seri Drama Korea yang Membahas Sekte Sesat di Korea Selatan” begitu judul berita yang ditulis Yahoo Indonesia pada 2 Maret lalu. Dengan penasaran, ia mengklik laman berita itu. 

Alih-alih menonton drama Korea, perempuan itu justru akhirnya mencari tahu tentang aliran kepercayaan Shincheonji yang ditulis pada lead berita tersebut sebagai sumber penyebaran utama COVID-19 di Korea Selatan. 
Pada 11 Maret 2020, WHO (World Health Organization) telah menetapkan wabah COVID-19 sebagai pandemi, yaitu wabah yang terjadi di banyak negara dan bersifat menular. Hingga 25 Maret 2020, COVID-19 telah menginfeksi 935.188 orang di hampir seluruh dunia. Wabah yang pertama kali dideteksi terinfeksi di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok ini disebabkan oleh virus Sars-COV-2 yang menyerang saluran pernapasan dan menular dengan sangat cepat dan mudah lewat air liur.

Grafik 1.2 Perbandingan Pasien Dalam Perawatan, Meninggal, dan Sembuh
dari Pandemi COVID-19 (22 Januari – 25 Maret 2020)

Sumber Data: Data Repository by Johns Hopkins CSSE. Infografis interaktif akses di sini.

Shincheonji sendiri adalah organisasi kontroversial yang giat dicap sebagai kultus dan diduga sering menyusup ke gereja lain untuk menjaring pengikut. Pada 2014, kelompok tersebut dilaporkan memiliki lebih dari 120.000 anggota. Sementara pada 2020, diperkirakan sekitar 200.000 anggota. Anggota kultus ini diajarkan untuk percaya pada Lee Man-hee, pendirinya yang mengaku sebagai nabi baru. 

Kultus ini mendadak kembali viral setelah ditemukan bahwa salah satu kasus yang menyebabkan terjadinya ledakan penyebaran virus ini di Korea Selatan, yaitu oleh salah satu anggotanya yang dikenal sebagai “pasien ke-31” di Daegu, Korea Selatan. Pasien itu digelari media sebagai super-spreader karena telah menginfeksi lebih dari 5000 orang di seluruh Korea Selatan. 

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Sebuah fakta ditemukan bahwa kultus ini memiliki cara peribadatan yang sangat memungkinkan terjadinya penularan virus secara masif. Ribuan anggotanya akan duduk bersama di lantai, dengan jarak yang hanya 5 sentimeter antara satu bahu dan bahu yang lain. Ditambah lagi, mereka akan sangat sering mengucap kata “Amin” secara bersama-sama dalam peribadatan ini. Pasien ke-31 yang sudah terinfeksi COVID-19 ini dilacak sempat dua kali hadir dalam peribadatan itu, yakni pada 9 Februari dan 16 Februari 2020. 

Korea Selatan sendiri mengumumkan pasien terinfeksi pertamanya pada 20 Januari 2020 dan baru mencapai jumlah 31 pasien pada 18 Februari. Setelah pasien ke-31 itu terbukti positif terinfeksi COVID-19 pada 18 Februari 2020, petugas medis di Korea Selatan segera menelusuri (tracing) riwayat kemungkinan penyebarannya. Korea Selatan kemudian mengumumkan lonjakan drastis pasien terinfeksi COVID-19 hanya beberapa hari setelahnya. Dari yang sebelumnya hanya bertambah satu setiap hari, pada 20 Februari 2020, kini lonjakan terjadi hampir tiga kali lipat menjadi 104 pasien terinfeksi. Jumlah ini terus berlipat ganda hingga sekarang. 

Grafik 1.3 Grafik Jumlah Pasien Positif COVID-19 di Korea Selatan
(22 Januari – 25 Maret 2020)

Sumber Data: Data Repository by Johns Hopkins CSSE. Infografis interaktif akses di sini.

“Pantas saja kasus di Korea Selatan melonjak sebesar itu. Ditambah lagi si pasien ke-31 ini pergi beribadah, ke pasar, hotel, dan pakai kendaraan umum juga,” gumam Queenshell.

Kasus yang hampir mirip juga terjadi di Malaysia. Mereka mengumumkan 190 kasus baru pasien terinfeksi COVID-19. Sebagian besar kasus tersebut berhubungan dengan acara Tabligh Akbar digelar di Masjid Sri Petaling, Kuala Lumpur pada 28 Februari hingga 1 Maret 2020 dan melibatkan 16.000 peserta yang berasal dari beberapa negara, termasuk 696 WNI, 13 di antaranya dinyatakan positif. 

Sama halnya dengan Korea Selatan, setelah pasien terinfeksi menularkan di kegiatan yang melibatkan banyak orang terdeteksi, grafik kasus positif COVID-19 langsung melonjak tajam.

 Grafik 1.4 Jumlah Pasien Positif COVID-19 di Malaysia
(22 Januari – 25 Maret 2020)

Sumber Data: Data Repository by Johns Hopkins CSSE. Infografis interaktif akses di sini.

Dari kasus pandemi yang sudah tersebar di kedua negara ini, kita bisa menemukan sebuah persamaan, yaitu penyebarannya akan terjadi secara masif dalam perkumpulan berskala besar. Sudah seharusnya sebagai warga negara dan warga dunia, kita turut ambil bagian dalam mencegah penularan wabah ini. Walaupun tidak menunjukkan gejala sakit, kita bisa saja sudah terinfeksi COVID-19, mengingat sebuah studi di Jepang menunjukkan dalam beberapa temuan terakhir orang yang terinfeksi wabah ini tidak menunjukkan gejala sama sekali.  

Oleh karena itu, negara-negara, termasuk Indonesia, sangat menggencarkan imbauan untuk tetap tinggal di rumah bagi warga-warganya dan melakukan physical distancing. Bahkan di beberapa negara, termasuk Malaysia, dilakukan lockdown untuk membatasi aktivitas warganya di luar rumah.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s