Perkembangan Usaha Rintisan di Bidang Kuliner

Persaingan ekonomi global menjadi semakin ketat dari tahun ke tahun. Banyak orang berlomba-lomba, khususnya generasi millenial berlomba-lomba untuk menciptakan inovasi baru. Beragam upaya dilakukan untuk meningkatkan inovasi tersebut.

Dunia startup kini sedang menjadi suatu tren di Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Berbagi kisah sukses startup lokal seperti Gojek, Bukalapak, dan Traveloka, menjadi pemicu semangat munculnya startup-startup baru dalam bidang apapun. Setiap tahun bahkan setiap bulan banyak usaha rintisan baru bermunculan, terutama dalam bidang kuliner. Dilansir dari Tempo.com, lebih dari 10.000 pengusaha di Indonesia terjun dalam dunia kuliner. Potensi pengguna internet di Indonesia yang semakin meningkat dari tahun ke tahun juga menjadi faktor utama untuk mendirikan sebuah usaha rintisan.

Sebenarnya apa itu ​startup​? Banyak definisi yang agak berbeda dalam menjelaskan arti startup.​ Terutama dari cara mengategorikan mana yang masih dianggap sebuah ​startup​ dan mana yang bukan. Banyak juga yang menghubungan startup dengan sisi teknologi. ​Startup adalah usaha rintisan yang masih belum jelas akan produk yang dihasilkan, siapa customer​-nya? Dan bagaimana model bisnisnya? Artinya, bisnis ​startup​ sewaktu-waktu mereka bisa melakukan ​pivot​ atau perputaran dan perubahan terhadap hasil produksinya.

Beberapa tahun terakhir ini, banyak bisnis kuliner yang kian berkembang di sekitar kita, baik berekspansi ke makanan atau pun minuman. Salah satunya, usaha rintisan Saladcro. Usaha yang bergerak di bidang kuliner ini sedang naik daun. Genap sebulan bisnis kuliner di bidang makanan itu hadir dalam industri kuliner. Menurut ​owner​ Saladcro, Adiel Aziz, untuk memulai usaha rintisan harus memiliki keyakinan yang kuat untuk memulai. Tahun ini genap 25 tahun Adiel berkarir dalam dunia industri kuliner. Mulai dari menjual ​black​ ​hotdog​, nasi suwir, dan ​pizza​ ​public,​ hingga Saladcro.

Perkembangan kuliner di Indonesia kian naik turun. Menurut Adiel, untuk memulai suatu usaha, terutama dalam bidang kuliner, harus mengerti ​trick​ yang mulus agar mendapatkan profit​ yang stabil. Pasar Santa, Blok M, Jakarta Selatan, merupakan lokasi ​market​ yang Adiel pilih untuk merintis awal karirnya di bidang kuliner. “Lokasinya strategis. Deket ke melawai, kebayoran, dan untuk ​pick​ ​up​ poin gojek di sini gampang banget,” tuturnya.

Adiel Aziz, ​owner​ dari Saladcro

Dalam memulai usaha baru dibutuhkan motivasi yang kuat dan hal mendasar yang menjadi pemicu untuk memulai usaha tersebut. Gaya hidup sehat adalah salah satu motivasi Adiel dalam merintis Saladcro. Dari situ, ia terpikir untuk membuat kreasi makanan sehat yang murah dan terjangkau.

Dalam merintis usaha di bidang kuliner, Adiel mengaku tak semudah merintis usaha lain, harus terus ​up​ ​to​ ​date​ akan perkembangan tren yang tengah hadir di kalangan masyarakat. Mulai dari ​Black​ ​Hotdog,​ Nasi Suwir, dan ​Pizza​ ​Public​ tak dapat bertahan lama karena tertimpa oleh kuliner-kuliner lainnya. “Menurut gue, kita harus bisa menempatkan diri kita sih. Kita harus melek informasi dan teknologi apa aja yang lagi tren,” tutur Adiel, pria lulusan Universitas Prasetya Mulya itu.

Setelah tiga makanan yang pernah Adiel garap, kini ia beralih untuk menjual Saladcro.

Salad ​Croissant​ ini merupakan makanan pilihan untuk penggemar makanan ​junkie​, tetapi bisa merasakan sensasi makan ​hotdog​ atau burger dengan lebih sehat. Varian saladnya ada tiga jenis, yaitu ​Caesar’s Chicken, Jamie’s italian,​ dan ​French​ ​Kush.​ Semua variannya dipatok dengan harga Rp45 ribu. Porsi tiap ukurannya cukup besar dan mengenyangkan. Menu Saesar’s ​Chicken​ berisi salad ​romaine,​ potongan daging ayam, ​beef​ ​bacon​, ​croutons​, dan caesar​ ​dressing.​ Sayur segar, saus ​creamy​ dan gurih menambah sensasi sedapnya Saladcro. Selain Salad Croissant, Saladcro juga punya pilihan salad ​bowl​. Bisa disantap oleh mereka yang sudah biasa makan sehat. Terutama bagi para vegan.

Salah satu menu andalan Saladcro, Caesar’s ​Chicken

Adiel memilih untuk berekspansi ke kuliner sehat karena menurutnya jenis makanan sehat ini tidak akan pernah mati di tengah perkembangan kuliner yang semakin meningkat. Menurutnya, untuk melebarkan sayap bisnisnya, kita harus berani untuk membangun relasi dengan pesaing lain. Selama bulan Ramadan, Saladcro bekerjasama dengan Kopi Arka untuk setiap pembelian produknya. Selain menjual di Pasar Santa, Saladcro juga menjalin kerjasama dengan ​Go-food​ dan beberapa perusahaan lainnya untuk menggaet pasar yang lebih luas. Adiel mengaku berhasil mendapatkan ​profit​ sebesar 150 hingga 200 persen per setiap harga jualnya. Hingga saat ini, Adiel belum ingin membuka cabang lain untuk Saladcro karena menurutnya untuk membuka gerai lain harus melihat apakah inovasi yang dia ciptakan diterima baik oleh masyarakat. “Belum sih, tapi udah ada penawaran di beberapa daerah. Kita masih fokus ke yang di sini dulu sih, semua sistemnya kita benerin, kalau udah oke baru kita melebarkan sayap,” jelasnya.

Berbeda dengan Stuja ​Coffee,​ salah satu kedai kopi yang baru saja rintis tiga bulan terakhir. Kedai kopi yang terletak di Cipete, Jakarta Selatan itu mengambil ​profit​ sebesar 25 persen per setiap harga jualnya. Stuja mematok harga kopi susu sebesar Rp35 ribu per setiap botolnya. Menurut Andiko, ​founder​ Stuja ​Coffee​, mereka bergabung dalam industri kuliner lantaran ingin mengajak pengusaha-pengusaha lain dalam bidang kuliner untuk tidak menggunakan plastik dalam kemasannya.

Stuja Coffee milik Ayudia Bing Slamet dan Ditto menerapkan konsep eco ​friendly​ dengan mengurangi produksi plastik. Beberapa bentuk kemasan pun diubah menggunakan kemasan lain. Beberapa di antaranya adalah botol kaca, kantong ​take away​ yang bukan dari bahan dasar plastik dan sedotan yang menyerupai plastik, tetapi bisa terurai di tanah.

Menurut Andiko, untuk memulai usaha rintisan dalam bidang kuliner harus melihat pasar tren yang melambung di kalangan masyarakat. Stuja memilih kawasan Cipete, Jakarta Selatan karena menurutnya lokasi ini merupakan ​district-​ nya ​Coffee​ ​Shop​. Selain itu, Stuja ​Coffee juga bekerjasama dengan Salapan ​Noodle​ dalam menjalankan bisnisnya. “Kerja sama kita sama Salapan ​Noodle​ ternyata juga berdampak ke mereka. Mereka jadi ikut gak menggunakan plastik. Harapannya semoga kedai kopi lainnya juga mengikuti jejak kita,” kata Andiko. Stuja optimis kalau hadirnya mereka dalam industri kuliner akan memberikan dampak yang baik terhadap pesaing bisnis lainnya, terutama dalam bidang kuliner. Walaupun harga botol kaca relatif mahal, tetapi kalau banyak yang menggunakan, maka harga package-nya akan turun, sehingga berdampak pada kenaikan profit yang didapat.

Andiko, ​founder ​Stuja ​Coffee

Hingga saat ini, Stuja berhasil menjual 10.000 botol dalam waktu tiga bulan. Dilihat dari keuntungan yang didapat, Stuja saat ini fokus pada ​market​ pertamanya terlebih dahulu. Menurut Andiko, usaha rintisan baru terbilang sukses ketika usaha yang dirintisnya masih bertahan dalam kurun waktu 10 tahun. Tak dapat dipungkiri, Stuja ​Coffee​ mendapat tawaran untuk membuka gerai baru di beberapa kota, salah satunya di Pulau Dewata, Bali.

“Rencananya kita mau buka di Bali di bulan Oktober mendatang,” tuturnya.

Menu andalan Stuja ​Coffee​, Kopi Untuk Bumi.

Selain berkelana dalam dunia kopi, Stuja juga melebarkan sayapnya ke beberapa bidang, seperti musik dan ​clothing​. Andiko menegaskan, hal yang paling penting jika ingin merintis usaha dalam bidang kuliner, dibutuhkan investor tetap untuk ​backup​ kerugian yang diterimanya. 

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s