Mengembalikan Harga Diri dari Standar Kecantikan

Di usia belasan tahun, standar kecantikan pernah merebut harga diri saya. Kini saya berhasil mengembalikannya dan mampu menegakkan kepala saat melangkah.

“Ngapain ikut ekskul paskib sih? Nanti makin hitam lho.”

“Kamu olahraga dong. Gimana cowok ada yang mau deketin kalau gemuk?”

Gemuk dan hitam.

Dua kata sifat yang jauh dari standar kecantikan dan melekat pada diri saya di usia remaja. Tak jarang dua kalimat di atas pun muncul dan memengaruhi rasa percaya diri sehingga sering kali saya berpikir, “Apa iya saya sejelek itu?” Bagaimana tidak, sewaktu teman-teman SMP dan SMA kasmaran karena perasaannya terbalaskan oleh orang yang dikagumi, saya selalu berada di pojok ruangan dan termenung karena menganggap fisik saya tidak menarik sehingga tidak pantas dikagumi siapa pun.

Ya, dulu hidup saya masih jauh dari pemahaman self-acceptance, sedikit-sedikit selalu rendah diri. Julukan yang diberikan teman-teman di bangku sekolah pun cukup berdampak dalam membentuk cara pandang saya terhadap diri sendiri. Namun, terkadang saya juga merasa baik-baik saja dengan penampilan yang dimiliki. Jika sedang dirasuki oleh rasa percaya diri, saya selalu mengucapkan kalimat ini, “Saya mau diterima apa adanya. Kalau mereka tidak suka saya seperti ini, berarti mereka tidak bisa menerima saya.”

Tapi tahu apa saya yang berusia belasan tahun itu tentang penerimaan diri? Kebanyakan juga membayangkan jika kulit saya bisa menunjukkan semburat merah saat tersipu malu, seperti perempuan peranakan atau campuran ras kulit putih. Namun, tak dapat dimungkiri bahwa rasa syukur sering mendadak muncul jika melihat diri saya tak perlu merasakan sensasi kulit yang terbakar, seperti yang teman-teman alami setiap menghabiskan waktu di bawah paparan sinar matahari selama field trip.

Memulai kehidupan sebagai mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta yang multikultural mengejutkan saya. Percaya atau tidak, tak ada satu pun yang pernah mengolok atau memanggil saya berdasarkan kondisi fisik; gemuk dan hitam. Entah karena hal-hal demikian tidak menunjukkan sikap dewasa sebagai pembahasan atau lingkungan saya yang lebih terbiasa hidup menghargai orang lain. Padahal saya sudah mempersiapkan diri dengan panggilan baru.

Keberadaan saya di sana seperti diapresiasi, tandanya saya berada di lingkungan yang tepat untuk tumbuh dalam proses pendewasaan.

Tapi, bukan berarti tingkat percaya diri itu langsung meningkat secara drastis. Setiap menyapu pandangan di area kampus, ada banyak perempuan berpenampilan menarik dengan paras yang menyenangkan hati untuk dipandang. Begitu pun setelah saya bergabung dengan radio kampus. Senior-senior yang stylish dan cantik selalu berhasil membuat jemari kaki saya mengkerut.

Sebagai pribadi baru di sebuah lingkungan, umumnya kita melakukan observasi untuk mampu menempatkan diri dan perilaku terhadap orang-orang di dalamnya. Niat beradaptasi dengan baik, tahun pertama di radio kampus itu justru dilewati dengan rasa takut, cemas, dan tentunya insecure. Tiap kali tahu ada banyak kru berkumpul di studio—khususnya para senior, saya sering memutuskan untuk berputar arah dan melangkahkan kaki menuju tempat lain untuk menghabiskan waktu. Bagi saya saat itu, lebih baik diam daripada harus memulai pembicaraan saat berada di sekitar orang-orang yang belum dikenal. Saya juga merasa inferior.

Anehnya, dalam situasi tersebut saya merasa tak banyak dari senior-senior itu yang menyukai keberadaan saya. Tapi dari mana asumsi tersebut muncul? Jawabannya kembali lagi ke kulit hitam dan tubuh yang agak gemuk—walaupun berdasarkan BMI, tubuh saya termasuk proporsional. Ada satu momentum di mana saya merasa perlu diselamatkan dari sebuah situasi. Waktu itu saya menantang diri untuk melawan rasa takut. Studio radio didominasi oleh senior pria yang mengobrol dan ada seorang teman perempuan seangkatan saya yang terlibat dalam pembicaraan mereka, penampilannya menarik. Setelah memberi sapaan, saya duduk di balik pintu, kikuk dan kebingungan harus berbuat apa. Mereka asyik dengan obrolannya tanpa berusaha melibatkan atau menganggap presensi saya. Saat itu saya merasa tidak diinginkan, tapi merasa gengsi untuk segera meninggalkan tempat.

Tahun pertama pun saya habiskan dengan asumsi bahwa pria hanya ingin berinteraksi dengan perempuan cantik—di sini saya tidak menyalahkan siapa pun. Mungkin memang ada tipikal yang seperti itu? 

Namun, di lingkungan yang sama di tahun-tahun berikutnya, saya justru berhasil keluar dari lubang gelap tersebut. Suatu waktu di penghujung 2018, kami sesama kru radio kampus saling bertukar kesan dan pesan. Saya terkejut saat memandang diri saya dari sudut pandang orang lain. Mereka justru melihat cara kerja yang baik dan loyalitas. Meskipun ada sebuah prasangka yang tampaknya membuat mereka ragu untuk berbicara dengan saya. Ya, mereka pikir saya pribadi yang galak hanya karena jarang tersenyum. Padahal saat itu saya kesulitan memulai interaksi.

Memang kalimat ‘keadilan bagi seluruh rakyat good looking’ itu benar adanya. Tapi bukankah kita punya value dalam diri masing-masing?

Secara perlahan, saya pun berdiri dan melangkah untuk belajar menemukan value yang dimiliki. Dari sana saya mengerti bahwa hidup tak melulu tentang fisik. Memang paras dan tubuh berpengaruh dalam menentukan impresi, tetapi itu tidak menjelaskan banyak hal tentang siapa atau seperti apa diri kita.

Saya meyakini kalau self-acceptance itu sebuah perjalanan panjang sampai kita mati. Makanya kalau menengok ke belakang—ke diri saya beberapa tahun yang lalu, saya melihat seorang perempuan dengan kekonyolannya. Bagaimana bisa saya tenggelam dalam sebuah pemahaman bahwa penampilan fisik adalah segalanya? Padahal kulit hitam tidak berarti lebih jelek dari mereka yang berkulit putih dan sering muncul sebagai model iklan body lotion. Bertubuh gemuk pun bukan berarti tidak sehat. Terlihat dengan jelas bahwa standar kecantikan berhasil menggerogoti harga diri saya.

Tidak ada penyesalan, saya justru senang dan bersyukur pernah melalui masa-masa itu. Insecurity shaped me into who I am, in a good way. Ya, meskipun belum 100% hilang, setidaknya kini saya mampu mengapresiasi diri dan menegakkan kepala saat melangkah. Di awal pandemi lalu saya pun memutuskan untuk mulai menggunakan berbagai beauty products dan mengawali perjalanan 10.000 langkah sehari. Bukan untuk terlihat menarik di mata orang, melainkan bentuk sayang dan menghargai seluruh organ tubuh yang dimiliki.

Kini fisik pun tak hanya menjadi fokus saya, tetapi juga kapabilitas diri. Saya yakin kalau hal tersebut yang akan membawa perjalanan hidup saya lebih jauh lagi, baik dalam segi karier maupun sebagai insan yang berkualitas.

Mengingat kembali situasi di mana saya merasa perlu ‘diselamatkan’, mungkin kepribadian teman perempuan saya itu lebih menyenangkan dan ia mudah mencair dalam berbagai situasi sehingga tampak lebih disukai—setidaknya di mata saya. Sementara sebagai pribadi yang kurang cakap dalam terlibat di sebuah pembicaraan dengan orang baru, saya memilih untuk memulai dengan menunjukkan kapabilitas diri untuk mereka kenal dan nilai.

Ketika kata ‘cantik’ itu kental didefinisikan dengan warna kulit dan bentuk tubuh, atau dengan kepiawaian seorang individu melebur dalam beragam situasi, sepertinya bukan itu makna cantik yang disematkan Sang Pencipta dalam diri saya. Mungkin makna kata tersebut terletak pada senyuman yang muncul saat saya menghabiskan waktu bersama orang-orang yang tepat. Mungkin juga hanya terlihat bagi mereka yang telah mengenal dan menjadi bagian dari hidup saya. Tapi apapun itu, saya lebih senang membiarkan makna ‘cantik’ menjadi misteri, tanpa diimplikasikan dengan standar kecantikan.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s