Apakah Pandemi Membuat Kencan Online Lebih Berharga?

Sebelum pandemi menjadi bagian dari hidup kita di awal 2020 lalu, kencan online diperlakukan oleh sebagian orang layaknya bar hopping. Memiliki ketertarikan, swipe right, memulai pembicaraan, memutuskan untuk bertemu, dan kembali membuka dating apps untuk menggeser layar ke kanan pada seseorang yang dianggap lebih menarik.

Namun, situasi ini justru membuat para pengguna aplikasi kencan lebih selektif.  

Terlepas dari berbagai aktivitas yang dilakukan dari rumah, pandemi membuat kita memiliki lebih banyak waktu luang untuk menarik diri sejenak dari jeratan kesibukan dan melakukan introspeksi. Intensi terhadap diri sendiri dan orang lain pun lebih jelas sehingga kita menemukan apa yang sebenarnya dibutuhkan. Oleh karena itu, sosok yang dicari pada aplikasi kencan bukan lagi untuk menemani pada saat tertentu, melainkan jangka panjang. Teman ngobrol yang dapat mengerti kepribadian dan membahas berbagai topik dianggap sebagai penangkal sepi.

Menurut Logan Ury, seorang behavioural scientist sekaligus director of relationship science di aplikasi Hinge, kini pengguna menghabiskan waktu lebih lama untuk mengenal satu sama lain di balik blue screen sebelum memutuskan untuk bertemu langsung. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memaknai kencan tersebut.

Kencan berupa video date dianggap sebagai solusi. Para strangers yang bertemu lewat aplikasi kencan pun dapat mendiskusikan do’s and don’ts untuk ‘dipatuhi’ saat keduanya memutuskan untuk berinteraksi tatap muka. Diskusi tersebut akan memastikan bahwa pertemuannya menjadi sebuah momen berharga sekaligus menciptakan batasan diri masing-masing dan suasana nyaman saat berkencan. Berbagai pertanyaan terkait lokasi yang sebaiknya outdoor, boleh melakukan physical touch, dan perkiraan jumlah pengeluaran saat berkencan pun akan terjawab jika tidak terburu-buru untuk melangkahkan kaki ke anak tangga selanjutnya.

Walaupun dapat dilakukan online, tampaknya kencan bukan ‘hiburan’ yang saat ini diprioritaskan. Dilansir dari Vox, Match Group—perusahaan yang menaungi berbagai aplikasi kencan, mengalami penurunan jumlah pelanggan. Amarnath Thombre, selaku CEO dari perusahaan tersebut mengungkapkan bahwa para pengguna lebih berhati-hati dalam memilih teman kencan karena mereka tidak ingin mengejar banyak orang dalam waktu bersamaan. Mereka memilih untuk mengambil langkah kecil dan menciptakan ikatan dengan teman kencannya dibandingkan bergerak cepat, tetapi justru mengakhiri hubungan.

Di samping itu, terlalu banyak pertimbangan yang harus dilakukan sebelum memutuskan untuk bertemu dengan seseorang. Kegelisahan yang dirasakan tak hanya disebabkan karena memikirkan apakah teman kencan ini mampu menjamin dirinya tidak menularkan penyakit, tetapi juga sederet skenario what ifs yang akan menyebabkan kencannya tidak berjalan semestinya. Terutama jika teman kencannya terlihat tidak menyukai dirinya di luar gelembung dunia maya.

Sebuah hal yang wajar apabila merasa canggung, gugup, atau tidak nyaman saat berkencan tatap muka. Namun, perlu dipertanyakan apabila beberapa hal tersebut terus terjadi selama kencan berlangsung dan membuat teman kencannya merasa kikuk dalam membawa pembicaraan. Mungkin penyebab terbesarnya bukanlah menghabiskan waktu bersama orang baru, melainkan terbebani dengan sebuah ide bertemu seseorang dalam situasi pandemi.

Sebuah studi yang dilakukan para psikolog di Montreal McGill University pada 2017 menunjukkan bahwa tingkah laku manusia ketika berkencan akan berubah saat mereka mencemaskan risiko penyakit menular. Meskipun tak disadari, ketertarikan yang menurun karena merasa tidak nyaman dapat dikenali oleh teman kencannya melalui perubahan sikap, yakni lebih pendiam dan kurang bersahabat. Dalam hal ini, teman kencan memang tidak dapat disalahkan. Namun, tidak menutup kemungkinan apabila ia merasa dirinya yang menciptakan situasi buruk.

Oleh karena itu, kencan online merupakan ‘langkah aman’ untuk menghindari situasi canggung dan kegelisahan dalam keadaan ini. Saat tidak ada chemistry pada obrolan di lima menit pertama, siapapun dapat mengaktifkan airplane mode untuk mematikan panggilan dengan alasan koneksi terputus. Lagipula, tak perlu merasa membuang waktu maupun biaya untuk swab test jika ternyata obrolan dengan stranger ini tidak berjalan sesuai ekspektasi.

Apa Arti Sustainable Fashion Jika Konsumen Tidak Mengurangi Pembelian?

Saat menumpangi Transjakarta sebelum pandemi melanda, saya sering mendapati kaum muda masuk ke dalam bus dari Halte Pasar Senen dan Pasar Baru. Mereka membawa tas plastik berukuran besar yang saya yakini isinya adalah pakaian bekas. Maklum, thrift shopping mulai menjadi opsi utama untuk berbelanja, entah barangnya digunakan untuk kepentingan pribadi atau dijual lagi dengan pemasaran di Instagram.

Tren tersebut muncul sejak industri fesyen diramaikan dengan istilah sustainable fashion. Ketika praktik fast fashion dinilai merusak lingkungan dan mengeksploitasi tenaga kerja, para penggemar trendsetter mulai mencari cara untuk tetap mengikuti gaya busana terkini sembari meminimalisir kerugian berbagai sektor yang terlibat dalam produksi pakaian.

Praktik tersebut cukup mengejutkan bagi saya yang waktu itu belum begitu paham dengan dunia fashion, lantaran pakaian dari Zara, Stradivarius, Topshop, H&M, Uniqlo, dan sederet merek lainnya dianggap bergengsi pada 2015 lalu—setidaknya di lingkungan pertemanan saya sewaktu SMA. Untungnya saya bukan pelanggan setia dari merek-merek tersebut. Rasa ingin tahu lebih dalam tentang sustainable fashion pun muncul karena saya pikir permasalahan industri ini tak terselesaikan hanya dengan meninggalkan fast fashion yang sangat digandrungi itu.

Awalnya terdengar rumit, tetapi usai membaca berbagai artikel fesyen, saya menemukan beberapa cara untuk menciptakan sustainable fashion dengan cara-cara sederhana, seperti merawat pakaian yang dimiliki, menyumbangkan pakaian layak pakai atau menjualnya di thrift shop, investasi pada pakaian yang bersertifikasi bluesign, memilih bahan pakaian alami, investasi pada pakaian berkualitas baik maupun slow fashion, dan membeli pakaian secondhand.

Lalu saya bertanya-tanya, apakah dengan menerapkan cara-cara tersebut sudah cukup untuk menciptakan sustainable fashion?

Jawabannya belum. Semua upaya tersebut belum maksimal apabila kita tidak berusaha untuk mengurangi pembelian. Mungkin kita sering membaca mantra buy less and buy better tanpa memaknai artinya. Padahal, mantra tersebut merupakan kunci meninggalkan kerusakan berbagai lapisan kehidupan seminim mungkin. Kita perlu membentuk sebuah kebiasaan sebelum berbelanja pakaian, yaitu bertanya pada diri sendiri: “Apa yang saya beli? Mengapa saya membeli barang ini? Apakah saya sangat membutuhkannya? Apakah saya akan sering mengenakannya?”

Tentunya hal tersebut juga berlaku untuk pembelanjaan pakaian melalui thrift shop. Meskipun produk yang dibeli adalah bekas pakai, tidak serta merta kita telah mendukung sustainable fashion, mengingat adanya pembelian yang dilakukan dengan tujuan memiliki pakaian yang sesuai dengan tren. Terutama harga terjangkau yang justru memicu untuk bertindak impulsif. Terlebih lagi, dalam praktik fesyen berkelanjutan terdapat urutan penggunaan pakaian; mengenakan yang dimiliki, pinjam, tukar, sewa, beli bekas, buat, dan beli. Oleh karena itu, kita perlu bersifat selektif sebelum melakukan pembelian.

Berbicara tentang selektif, beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel di Refinery29 tentang sustainable fashion. Ternyata, terdapat toko-toko pakaian menggemaskan di Instagram yang ‘menerangkap’ calon konsumennya dengan embel-embel ‘sustainable’ ‘eco-friendly’ atau ‘green’. Setelah membaca keterangan toko di bagian about situsnya, ternyata pakaian yang dijual sama sekali tidak ramah lingkungan. Untuk memastikan pakaian yang hendak dibeli mendukung sustainable fashion, ada baiknya kita memverifikasi dengan menghubungi toko terkait bahan yang digunakan dan cara produksi mereka. Dari sini saya tahu bahwa background checking sebuah toko itu cukup penting.


Alexandra Horigan, Vice President of Strategic Initiatives dari Aspiration—sebuah perusahaan financial partner yang mendukung bisnis independen dan bertanggung jawab terhadap lingkungan, melihat bahwa bukan hanya barang yang dibeli yang memiliki dampak pada lingkungan, melainkan juga dana yang mengalir untuk merek dan perusahaan tersebut. Artinya, secara tidak langsung kita telah membantu usaha mereka dengan membeli produknya.

Mendukung sustainable fashion mungkin terlihat kompleks, tetapi dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dengan adanya kesadaran bahwa praktik ini bertujuan untuk menyatukan berbagai kalangan di industri fesyen. Dengan demikian, kita sudah selangkah lebih maju untuk mengubah industri tersebut ke arah yang lebih baik.

Mengembalikan Harga Diri dari Standar Kecantikan

Di usia belasan tahun, standar kecantikan pernah merebut harga diri saya. Kini saya berhasil mengembalikannya dan mampu menegakkan kepala saat melangkah.

“Ngapain ikut ekskul paskib sih? Nanti makin hitam lho.”

“Kamu olahraga dong. Gimana cowok ada yang mau deketin kalau gemuk?”

Gemuk dan hitam.

Dua kata sifat yang jauh dari standar kecantikan dan melekat pada diri saya di usia remaja. Tak jarang dua kalimat di atas pun muncul dan memengaruhi rasa percaya diri sehingga sering kali saya berpikir, “Apa iya saya sejelek itu?” Bagaimana tidak, sewaktu teman-teman SMP dan SMA kasmaran karena perasaannya terbalaskan oleh orang yang dikagumi, saya selalu berada di pojok ruangan dan termenung karena menganggap fisik saya tidak menarik sehingga tidak pantas dikagumi siapa pun.

Ya, dulu hidup saya masih jauh dari pemahaman self-acceptance, sedikit-sedikit selalu rendah diri. Julukan yang diberikan teman-teman di bangku sekolah pun cukup berdampak dalam membentuk cara pandang saya terhadap diri sendiri. Namun, terkadang saya juga merasa baik-baik saja dengan penampilan yang dimiliki. Jika sedang dirasuki oleh rasa percaya diri, saya selalu mengucapkan kalimat ini, “Saya mau diterima apa adanya. Kalau mereka tidak suka saya seperti ini, berarti mereka tidak bisa menerima saya.”

Tapi tahu apa saya yang berusia belasan tahun itu tentang penerimaan diri? Kebanyakan juga membayangkan jika kulit saya bisa menunjukkan semburat merah saat tersipu malu, seperti perempuan peranakan atau campuran ras kulit putih. Namun, tak dapat dimungkiri bahwa rasa syukur sering mendadak muncul jika melihat diri saya tak perlu merasakan sensasi kulit yang terbakar, seperti yang teman-teman alami setiap menghabiskan waktu di bawah paparan sinar matahari selama field trip.

Memulai kehidupan sebagai mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta yang multikultural mengejutkan saya. Percaya atau tidak, tak ada satu pun yang pernah mengolok atau memanggil saya berdasarkan kondisi fisik; gemuk dan hitam. Entah karena hal-hal demikian tidak menunjukkan sikap dewasa sebagai pembahasan atau lingkungan saya yang lebih terbiasa hidup menghargai orang lain. Padahal saya sudah mempersiapkan diri dengan panggilan baru.

Keberadaan saya di sana seperti diapresiasi, tandanya saya berada di lingkungan yang tepat untuk tumbuh dalam proses pendewasaan.

Tapi, bukan berarti tingkat percaya diri itu langsung meningkat secara drastis. Setiap menyapu pandangan di area kampus, ada banyak perempuan berpenampilan menarik dengan paras yang menyenangkan hati untuk dipandang. Begitu pun setelah saya bergabung dengan radio kampus. Senior-senior yang stylish dan cantik selalu berhasil membuat jemari kaki saya mengkerut.

Sebagai pribadi baru di sebuah lingkungan, umumnya kita melakukan observasi untuk mampu menempatkan diri dan perilaku terhadap orang-orang di dalamnya. Niat beradaptasi dengan baik, tahun pertama di radio kampus itu justru dilewati dengan rasa takut, cemas, dan tentunya insecure. Tiap kali tahu ada banyak kru berkumpul di studio—khususnya para senior, saya sering memutuskan untuk berputar arah dan melangkahkan kaki menuju tempat lain untuk menghabiskan waktu. Bagi saya saat itu, lebih baik diam daripada harus memulai pembicaraan saat berada di sekitar orang-orang yang belum dikenal. Saya juga merasa inferior.

Anehnya, dalam situasi tersebut saya merasa tak banyak dari senior-senior itu yang menyukai keberadaan saya. Tapi dari mana asumsi tersebut muncul? Jawabannya kembali lagi ke kulit hitam dan tubuh yang agak gemuk—walaupun berdasarkan BMI, tubuh saya termasuk proporsional. Ada satu momentum di mana saya merasa perlu diselamatkan dari sebuah situasi. Waktu itu saya menantang diri untuk melawan rasa takut. Studio radio didominasi oleh senior pria yang mengobrol dan ada seorang teman perempuan seangkatan saya yang terlibat dalam pembicaraan mereka, penampilannya menarik. Setelah memberi sapaan, saya duduk di balik pintu, kikuk dan kebingungan harus berbuat apa. Mereka asyik dengan obrolannya tanpa berusaha melibatkan atau menganggap presensi saya. Saat itu saya merasa tidak diinginkan, tapi merasa gengsi untuk segera meninggalkan tempat.

Tahun pertama pun saya habiskan dengan asumsi bahwa pria hanya ingin berinteraksi dengan perempuan cantik—di sini saya tidak menyalahkan siapa pun. Mungkin memang ada tipikal yang seperti itu? 

Namun, di lingkungan yang sama di tahun-tahun berikutnya, saya justru berhasil keluar dari lubang gelap tersebut. Suatu waktu di penghujung 2018, kami sesama kru radio kampus saling bertukar kesan dan pesan. Saya terkejut saat memandang diri saya dari sudut pandang orang lain. Mereka justru melihat cara kerja yang baik dan loyalitas. Meskipun ada sebuah prasangka yang tampaknya membuat mereka ragu untuk berbicara dengan saya. Ya, mereka pikir saya pribadi yang galak hanya karena jarang tersenyum. Padahal saat itu saya kesulitan memulai interaksi.

Memang kalimat ‘keadilan bagi seluruh rakyat good looking’ itu benar adanya. Tapi bukankah kita punya value dalam diri masing-masing?

Secara perlahan, saya pun berdiri dan melangkah untuk belajar menemukan value yang dimiliki. Dari sana saya mengerti bahwa hidup tak melulu tentang fisik. Memang paras dan tubuh berpengaruh dalam menentukan impresi, tetapi itu tidak menjelaskan banyak hal tentang siapa atau seperti apa diri kita.

Saya meyakini kalau self-acceptance itu sebuah perjalanan panjang sampai kita mati. Makanya kalau menengok ke belakang—ke diri saya beberapa tahun yang lalu, saya melihat seorang perempuan dengan kekonyolannya. Bagaimana bisa saya tenggelam dalam sebuah pemahaman bahwa penampilan fisik adalah segalanya? Padahal kulit hitam tidak berarti lebih jelek dari mereka yang berkulit putih dan sering muncul sebagai model iklan body lotion. Bertubuh gemuk pun bukan berarti tidak sehat. Terlihat dengan jelas bahwa standar kecantikan berhasil menggerogoti harga diri saya.

Tidak ada penyesalan, saya justru senang dan bersyukur pernah melalui masa-masa itu. Insecurity shaped me into who I am, in a good way. Ya, meskipun belum 100% hilang, setidaknya kini saya mampu mengapresiasi diri dan menegakkan kepala saat melangkah. Di awal pandemi lalu saya pun memutuskan untuk mulai menggunakan berbagai beauty products dan mengawali perjalanan 10.000 langkah sehari. Bukan untuk terlihat menarik di mata orang, melainkan bentuk sayang dan menghargai seluruh organ tubuh yang dimiliki.

Kini fisik pun tak hanya menjadi fokus saya, tetapi juga kapabilitas diri. Saya yakin kalau hal tersebut yang akan membawa perjalanan hidup saya lebih jauh lagi, baik dalam segi karier maupun sebagai insan yang berkualitas.

Mengingat kembali situasi di mana saya merasa perlu ‘diselamatkan’, mungkin kepribadian teman perempuan saya itu lebih menyenangkan dan ia mudah mencair dalam berbagai situasi sehingga tampak lebih disukai—setidaknya di mata saya. Sementara sebagai pribadi yang kurang cakap dalam terlibat di sebuah pembicaraan dengan orang baru, saya memilih untuk memulai dengan menunjukkan kapabilitas diri untuk mereka kenal dan nilai.

Ketika kata ‘cantik’ itu kental didefinisikan dengan warna kulit dan bentuk tubuh, atau dengan kepiawaian seorang individu melebur dalam beragam situasi, sepertinya bukan itu makna cantik yang disematkan Sang Pencipta dalam diri saya. Mungkin makna kata tersebut terletak pada senyuman yang muncul saat saya menghabiskan waktu bersama orang-orang yang tepat. Mungkin juga hanya terlihat bagi mereka yang telah mengenal dan menjadi bagian dari hidup saya. Tapi apapun itu, saya lebih senang membiarkan makna ‘cantik’ menjadi misteri, tanpa diimplikasikan dengan standar kecantikan.

The pandemic made me aware of how lonely I am

I am the only child of the family. I never, ever have hated being the only child, not until the pandemic. It all started with the early days of quarantine where I had to stop seeing my friends earlier than it should have been. The next day I remember, I was going back home with my parents and living virtually in a bubble of Zoom meetings. Nobody is prepared for that.

Things were easy in the first months, apart from the exhaustion that I felt every time I awakened by the alarm blare.

Before starting the day, I put sunscreen on with blue light protection then turning my laptop on. And I hit the hay after doing my night routine; brushing my teeth, skincare, video call with my college buddies, and journaling.

Same old shit but a different day.

Everyone seemed to love their time spent with families at home. At least that’s what they said on Twitter. Sure, we now have the luxury of time, since we need no commute and have to be homebound due to the imposed regulations. To me, that’s just nonsense.

How so?

Most of the time, I live upstairs at my parents’ house. No interaction nor connection between me and my parents. We barely talked as I skipped the small talk and avoided my father rambling about the news. Meanwhile, my mother was busy concerning the WhatsApp messages about the virus. In conclusion, nobody I could share my thoughts with about stuff. Don’t mention that I haven’t tried to start the conversation, believe me, I did.

Let me give you the details.

As somebody who’s in her early 20s, I’m trying to be connected with the world through certain topics, such as mental health, gender inequality, racial discrimination, body positivity, and pop culture. Thanks to the internet and social media for making me attached to the world and changing my perspectives a lot. I’m trying to respect people as who they are, avoiding cracking a joke that may sound offensive, or speak up my mind if I find something ridiculous.

Those are antithetical to my parents whose ages are almost thrice mine.

So, what are you up to?

My life depends on the internet connection. I talk to my friends through instant messaging applications, research for my assignments on Google, entertain myself by watching loads of Netflix TV series, or too busy glorifying the singer of Watermelon Sugar.

I do think that I’m losing mindfulness for the past year because not being present is the closest thing to escape from reality where I’ve been imprisoned. Whenever I’m doing household chores, eating, taking a bath, or even listening to music, it is hard for me to be present. Sometimes, I found myself beaming at the thoughts that I have in mind. Scary, isn’t it?

Then, weeks ago when I was having dinner with my mother, I was giving full attention to half of an empty bowl in front of me. Diverting my gaze, my subconscious was hit by the silence that filled the room.

Hell, it’s an empty house.

My contentment vanished right after the realization. The ball game turns me into a silent person who contemplates her thoughts. I’m craving another humankind’s presence. Raise people’s laughter through my banter. Cursing in every sentence that I’m saying — bad habit but I’ll give it a toast when I have the chance. At that time, I was done eating then shifting upstairs to my room. My fingers made a clacking sound as I typed on the search engine to figure out how social distancing affected an only child.

I read an article on HuffPost — they referred to children, but who knows if that applies to young adults as well. They mentioned how only children missing being around their friends, yet can get through it. Meanwhile, I don’t think I am capable of doing that. We’re all dealing with isolation and disconnection from our pre-pandemic daily routine. Nonetheless, I believe only children hit it differently than our friends who spend the days with their siblings, even if it is irritating to acknowledge their presence.

As a journalism student back then, I was that type of person who tended to move from a place to another to do some activities. I had interactions with people most of the time, from 7 AM to 9 PM almost every day; attending classes in the morning until afternoon, doing my responsibilities as a reporter on a campus press, covering issues for the final projects, hanging out with friends, and sneaking out to music festivals on Friday nights.

Now can you imagine how emptiness starts kicking in? Somebody who was surrounded by packs of people round the clock, now living a ‘privileged life’ to stay in her sanctuary. Only God knows how long this will last. Late at night, sometimes I found myself bawling my eyes out behind closed doors — I also hyperventilate because this feeling couldn’t be taken in anymore. While caressing my shoulders and arms to calm down, I asked Google Assistant to play some music from my favorite band. Did that help? Of course not. It’s impossible to pull myself together right after the song started. The lyrics sounded more related than ever. So, how were you holding on? Have you ever felt emotionally tied up to some stuff that doesn’t physically exist in front of you? But in the fullness of time, they are the one who soothes and understands you. And that’s how I was.

Why didn’t you reach out to somebody?

First, bothering anyone in the middle of the night to accompany somebody who mentally unstable is the last thing I’d love to do. Second, it is hard and tiring to explain your state. Third, you probably don’t know what’s on their shoes at the moment.

Glutted by the feeling, I discovered how much I needed affection. Otherwise, I’m just a living corpse who’s trying to breathe while relying on positive quotes that look Tumblr-ish.

The past year is not entirely awful, the sun does shine at its times and there is a lot of recognition as well. I chewed over what kind of family that I ought to build; never shut out our feelings, obligated to understand that as human-being we all need some time to be alone, and allowing my children to have fun with their buddies without sneaking out behind their parents.

And talking over the phone for hours was underrated, the second you realize that’s the closest thing to hold your loved ones closer. Because what I knew is after hitting the red button on the screen, loneliness is engulfing in a tight hug. Until this very moment you read this, I haven’t got the faintest idea that there will be open arms waiting on the other side when this unprecedented time finally ends. The long talk doesn’t need to involve emotions. Sometimes all you need is just goofing around through the blue screen, reminiscing the old days where it wasn’t necessary to panic if we forget to put on a mask.

We need people to make us feel secure, wanted, and compatible to live the life we are going through. But I think we can’t get that from just anyone. Perhaps friends who are miles away or somebody you haven’t physically met.

As a single infant who evolves as an adult, I’m far from what they indicated as ‘only child syndrome’. I gain friends easily, depending on myself, selfless, well adjusted, and considered loneliness is trifling. So, it is hard to admit that lately, I’m joining the lonely club. Without missing a single night, I wish I could opt for the people whom I wanted to spend the quarantine.

Perkembangan Usaha Rintisan di Bidang Kuliner

Persaingan ekonomi global menjadi semakin ketat dari tahun ke tahun. Banyak orang berlomba-lomba, khususnya generasi millenial berlomba-lomba untuk menciptakan inovasi baru. Beragam upaya dilakukan untuk meningkatkan inovasi tersebut.

Dunia startup kini sedang menjadi suatu tren di Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Berbagi kisah sukses startup lokal seperti Gojek, Bukalapak, dan Traveloka, menjadi pemicu semangat munculnya startup-startup baru dalam bidang apapun. Setiap tahun bahkan setiap bulan banyak usaha rintisan baru bermunculan, terutama dalam bidang kuliner. Dilansir dari Tempo.com, lebih dari 10.000 pengusaha di Indonesia terjun dalam dunia kuliner. Potensi pengguna internet di Indonesia yang semakin meningkat dari tahun ke tahun juga menjadi faktor utama untuk mendirikan sebuah usaha rintisan.

Sebenarnya apa itu ​startup​? Banyak definisi yang agak berbeda dalam menjelaskan arti startup.​ Terutama dari cara mengategorikan mana yang masih dianggap sebuah ​startup​ dan mana yang bukan. Banyak juga yang menghubungan startup dengan sisi teknologi. ​Startup adalah usaha rintisan yang masih belum jelas akan produk yang dihasilkan, siapa customer​-nya? Dan bagaimana model bisnisnya? Artinya, bisnis ​startup​ sewaktu-waktu mereka bisa melakukan ​pivot​ atau perputaran dan perubahan terhadap hasil produksinya.

Beberapa tahun terakhir ini, banyak bisnis kuliner yang kian berkembang di sekitar kita, baik berekspansi ke makanan atau pun minuman. Salah satunya, usaha rintisan Saladcro. Usaha yang bergerak di bidang kuliner ini sedang naik daun. Genap sebulan bisnis kuliner di bidang makanan itu hadir dalam industri kuliner. Menurut ​owner​ Saladcro, Adiel Aziz, untuk memulai usaha rintisan harus memiliki keyakinan yang kuat untuk memulai. Tahun ini genap 25 tahun Adiel berkarir dalam dunia industri kuliner. Mulai dari menjual ​black​ ​hotdog​, nasi suwir, dan ​pizza​ ​public,​ hingga Saladcro.

Perkembangan kuliner di Indonesia kian naik turun. Menurut Adiel, untuk memulai suatu usaha, terutama dalam bidang kuliner, harus mengerti ​trick​ yang mulus agar mendapatkan profit​ yang stabil. Pasar Santa, Blok M, Jakarta Selatan, merupakan lokasi ​market​ yang Adiel pilih untuk merintis awal karirnya di bidang kuliner. “Lokasinya strategis. Deket ke melawai, kebayoran, dan untuk ​pick​ ​up​ poin gojek di sini gampang banget,” tuturnya.

Adiel Aziz, ​owner​ dari Saladcro

Dalam memulai usaha baru dibutuhkan motivasi yang kuat dan hal mendasar yang menjadi pemicu untuk memulai usaha tersebut. Gaya hidup sehat adalah salah satu motivasi Adiel dalam merintis Saladcro. Dari situ, ia terpikir untuk membuat kreasi makanan sehat yang murah dan terjangkau.

Dalam merintis usaha di bidang kuliner, Adiel mengaku tak semudah merintis usaha lain, harus terus ​up​ ​to​ ​date​ akan perkembangan tren yang tengah hadir di kalangan masyarakat. Mulai dari ​Black​ ​Hotdog,​ Nasi Suwir, dan ​Pizza​ ​Public​ tak dapat bertahan lama karena tertimpa oleh kuliner-kuliner lainnya. “Menurut gue, kita harus bisa menempatkan diri kita sih. Kita harus melek informasi dan teknologi apa aja yang lagi tren,” tutur Adiel, pria lulusan Universitas Prasetya Mulya itu.

Setelah tiga makanan yang pernah Adiel garap, kini ia beralih untuk menjual Saladcro.

Salad ​Croissant​ ini merupakan makanan pilihan untuk penggemar makanan ​junkie​, tetapi bisa merasakan sensasi makan ​hotdog​ atau burger dengan lebih sehat. Varian saladnya ada tiga jenis, yaitu ​Caesar’s Chicken, Jamie’s italian,​ dan ​French​ ​Kush.​ Semua variannya dipatok dengan harga Rp45 ribu. Porsi tiap ukurannya cukup besar dan mengenyangkan. Menu Saesar’s ​Chicken​ berisi salad ​romaine,​ potongan daging ayam, ​beef​ ​bacon​, ​croutons​, dan caesar​ ​dressing.​ Sayur segar, saus ​creamy​ dan gurih menambah sensasi sedapnya Saladcro. Selain Salad Croissant, Saladcro juga punya pilihan salad ​bowl​. Bisa disantap oleh mereka yang sudah biasa makan sehat. Terutama bagi para vegan.

Salah satu menu andalan Saladcro, Caesar’s ​Chicken

Adiel memilih untuk berekspansi ke kuliner sehat karena menurutnya jenis makanan sehat ini tidak akan pernah mati di tengah perkembangan kuliner yang semakin meningkat. Menurutnya, untuk melebarkan sayap bisnisnya, kita harus berani untuk membangun relasi dengan pesaing lain. Selama bulan Ramadan, Saladcro bekerjasama dengan Kopi Arka untuk setiap pembelian produknya. Selain menjual di Pasar Santa, Saladcro juga menjalin kerjasama dengan ​Go-food​ dan beberapa perusahaan lainnya untuk menggaet pasar yang lebih luas. Adiel mengaku berhasil mendapatkan ​profit​ sebesar 150 hingga 200 persen per setiap harga jualnya. Hingga saat ini, Adiel belum ingin membuka cabang lain untuk Saladcro karena menurutnya untuk membuka gerai lain harus melihat apakah inovasi yang dia ciptakan diterima baik oleh masyarakat. “Belum sih, tapi udah ada penawaran di beberapa daerah. Kita masih fokus ke yang di sini dulu sih, semua sistemnya kita benerin, kalau udah oke baru kita melebarkan sayap,” jelasnya.

Berbeda dengan Stuja ​Coffee,​ salah satu kedai kopi yang baru saja rintis tiga bulan terakhir. Kedai kopi yang terletak di Cipete, Jakarta Selatan itu mengambil ​profit​ sebesar 25 persen per setiap harga jualnya. Stuja mematok harga kopi susu sebesar Rp35 ribu per setiap botolnya. Menurut Andiko, ​founder​ Stuja ​Coffee​, mereka bergabung dalam industri kuliner lantaran ingin mengajak pengusaha-pengusaha lain dalam bidang kuliner untuk tidak menggunakan plastik dalam kemasannya.

Stuja Coffee milik Ayudia Bing Slamet dan Ditto menerapkan konsep eco ​friendly​ dengan mengurangi produksi plastik. Beberapa bentuk kemasan pun diubah menggunakan kemasan lain. Beberapa di antaranya adalah botol kaca, kantong ​take away​ yang bukan dari bahan dasar plastik dan sedotan yang menyerupai plastik, tetapi bisa terurai di tanah.

Menurut Andiko, untuk memulai usaha rintisan dalam bidang kuliner harus melihat pasar tren yang melambung di kalangan masyarakat. Stuja memilih kawasan Cipete, Jakarta Selatan karena menurutnya lokasi ini merupakan ​district-​ nya ​Coffee​ ​Shop​. Selain itu, Stuja ​Coffee juga bekerjasama dengan Salapan ​Noodle​ dalam menjalankan bisnisnya. “Kerja sama kita sama Salapan ​Noodle​ ternyata juga berdampak ke mereka. Mereka jadi ikut gak menggunakan plastik. Harapannya semoga kedai kopi lainnya juga mengikuti jejak kita,” kata Andiko. Stuja optimis kalau hadirnya mereka dalam industri kuliner akan memberikan dampak yang baik terhadap pesaing bisnis lainnya, terutama dalam bidang kuliner. Walaupun harga botol kaca relatif mahal, tetapi kalau banyak yang menggunakan, maka harga package-nya akan turun, sehingga berdampak pada kenaikan profit yang didapat.

Andiko, ​founder ​Stuja ​Coffee

Hingga saat ini, Stuja berhasil menjual 10.000 botol dalam waktu tiga bulan. Dilihat dari keuntungan yang didapat, Stuja saat ini fokus pada ​market​ pertamanya terlebih dahulu. Menurut Andiko, usaha rintisan baru terbilang sukses ketika usaha yang dirintisnya masih bertahan dalam kurun waktu 10 tahun. Tak dapat dipungkiri, Stuja ​Coffee​ mendapat tawaran untuk membuka gerai baru di beberapa kota, salah satunya di Pulau Dewata, Bali.

“Rencananya kita mau buka di Bali di bulan Oktober mendatang,” tuturnya.

Menu andalan Stuja ​Coffee​, Kopi Untuk Bumi.

Selain berkelana dalam dunia kopi, Stuja juga melebarkan sayapnya ke beberapa bidang, seperti musik dan ​clothing​. Andiko menegaskan, hal yang paling penting jika ingin merintis usaha dalam bidang kuliner, dibutuhkan investor tetap untuk ​backup​ kerugian yang diterimanya. 

Dilema Kuliah Online di Masa Pandemi Corona

“Waktu dosen lagi menjelaskan materi, ada mahasiswa yang ketahuan lagi nonton karena mikrofonnya nggak dimatikan,” cerita Andrian Putra, salah seorang mahasiswa Public Relations  angkatan 2019 di London School of Public Relations.

“Suaranya kaya cewek Korea lagi marah-marah. Feeling gue, sih, The World of The Married,” sambungnya diiringi gelak tawa mengingat kejadian tersebut. 

Mulai pertengahan Maret 2020 ini, Andrian dan mahasiswa lainnya harus belajar menyesuaikan diri terhadap sistem perkuliahan yang sama sekali baru bagi mereka: pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau juga sering dikenal dengan kuliah online.

Kebijakan ini dilakukan oleh banyak kampus sebagai upaya pencegahan penularan wabah COVID-19 yang semakin tak terkendali. Ini juga sehubungan dengan surat edaran yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19).

Imbauan pemerintah itu membuat instansi pendidikan harus melakukan PJJ. Banyak di antaranya menyiasati dengan memanfaatkan berbagai aplikasi teleconference. Mulai dari Zoom yang pertama kali rilis pada 2011 dan menawarkan fitur breakout room sebagai salah satu keunggulannya hingga Skype, aplikasi teleconference yang sudah sangat senior di kelas aplikasi serupa.

Perbandingan 6 Aplikasi Teleconference yang paling sering digunakan di Indonesia
(Sumber data: Riset mandiri dihimpun dari situs masing-masing aplikasi)

Setiap aplikasi teleconference memiliki keunggulannya masing-masing yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perkuliahan. “Kalau kita biasanya yang digunakan itu fasilitas share screen, untuk dosen atau mahasiswa presentasi. Kadang-kadang juga ada dosen yang pakai fasilitas breakout room untuk tugas kelompok. Dan, yang paling ditunggu mahasiswa sih waktu dosen ngasih remote control ke ketua kelas untuk verifikasi absen. Hahaha,” cerita Edgar Kenneth Abraham, mahasiswa Jurnalistik angkatan 2017 di Universitas Multimedia Nusantara. 

Selain Zoom, aplikasi Microsoft Teams juga memiliki fitur yang unik. “Ada yang namanya “Posts“, jadi tiap kali kita mau absen, dosen tinggal ketik ‘Absen di sini ya’ terus tinggal kita reply dengan komentar ‘Hadir’ dan juga di post itu memungkinkan buat kita ngumpulin tugas sama laporan, dan juga dosen tiap selesai pelajaran bisa langsung kasih materi slide-nya dalam Posts itu, dan nggak hilang, jadi kalau kedepannya kita mau cari materi dan cek tugas udah dikumpulin atau belum tinggal cari aja di Posts itu,” cerita Ivan Andry, mahasiswa Automotive and Robotics Engineering angkatan 2017 di Binus ASO.

Bagaimana pelaksanaan perkuliahan online di Jakarta dan Tangerang?

Pelaksanaan PJJ dengan bantuan aplikasi teleconference ini tak terkecuali dilakukan juga di Jakarta dan Tangerang. Namun, sistem perkuliahan ini dinilai kurang efektif bagi sebagian mahasiswa, seperti Aprilia Aileen, mahasiswi Bisnis Perhotelan angkatan 2018 di Universitas Podomoro. Menurutnya, tingkat efektivitas perkuliahan menurun karena dengan sistem PJJ ini mahasiswa berpotensi untuk kuliah sembari melakukan aktivitas lain sehingga tidak fokus pada materi yang sedang disampaikan. 

Tingkat Efektivitas dalam Pelaksanaan Perkuliahan Jarak Jauh dan Aplikasi Teleconference yang digunakan oleh Perguruan Tinggi di Jakarta dan Tangerang
(Sumber data: Survey mandiri)

Hasil dari survei yang dilakukan terhadap 41 sampel mahasiswa di 12 perguruan tinggi yang ada di Jakarta dan Tangerang perihal efektivitas PJJ juga menunjukkan hasil yang relatif sama dengan penuturan Aprilia. Sebanyak 36,1% mahasiswa merasa bahwa perkuliahan yang dilakukan menjadi tidak terlalu efektif. Namun, karena tidak ada jalan lain, metode kuliah semacam ini tetap menjadi opsi terbaik bagi banyak perguruan tinggi. Aplikasi Zoom menjadi sarana yang paling populer. 

Senada dengan Aprilia, Dionisius Kurniawan, mahasiswa Psikologi angkatan 2018 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), perbedaan suasana belajar setiap mahasiswa juga membuat perkuliahan menjadi tidak seefektif perkuliahan tatap muka karena lebih banyak distraksi yang bisa terjadi. “Kalau biasanya di kelas ketemu teman, bisa sambil bercanda, sekarang jadi nggak bisa,” imbuhnya.

Sistem PJJ di setiap perguruan tinggi pun tidak seragam. Jika aplikasi video conference digunakan dengan optimal pada perkuliahan di UNJ dan Universitas Podomoro, lain halnya dengan kebijakan di Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) karena instansi pendidikan yang berlokasi di Ciputat tersebut hanya menggunakan aplikasi teleconference Zoom di waktu-waktu tertentu.

“Biasanya kami menggunakan Zoom hanya untuk membahas materi yang sudah diberikan sebelumnya, tapi itu juga tergantung dengan dosen pengampunya. Ada yang hanya mengirimkan materi berupa slide tanpa pembahasan selanjutnya, ada yang meminta mahasiswanya sekadar mengerjakan tugas, dan ada juga yang meminta mendengarkan podcast karyanya yang diikuti dengan pemberian feedback,” tutur Agustio Ferio, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2017 di UPJ. 

Pria yang akrab disapa Tio itu menceritakan bahwa kampusnya menggunakan Zoom hanya di saat tertentu agar mahasiswa menerapkan sistem belajar mandiri melalui slide yang telah dibagikan sebelum dibahas bersama dengan dosen.

Lonjakan unduhan aplikasi teleconference

Aplikasi teleconference menjadi hal penting yang wajib dimiliki selama kelangsungan perkuliahan di masa pandemi saat ini. Dengan adanya imbauan meminimalisir aktivitas di luar, kegiatan-kegiatan yang sebelumnya harus dilakukan secara tatap muka dapat ditunjang oleh aplikasi teleconference. 

Mulai dari kegiatan rapat untuk keperluan pekerjaan, kegiatan pendidikan, hingga obrolan santai bersama teman dan keluarga dapat dilakukan melalui aplikasi-aplikasi tersebut. Hal ini membuat adanya kenaikan jumlah unduhan dalam waktu 1 bulan di Maret.

Perbandingan Unduhan Aplikasi Teleconference di Play Store dan App Store
Periode Maret 2020.
(Sumber data: Sensortower.com. Infografis interaktif akses di sini)

Situs riset aplikasi, sensortower.com mencatat Zoom mengalami kenaikan pengunduhan paling banyak dengan jumlah 43% dari seluruh unduhan aplikasi teleconference di Maret 2020. Aplikasi teleconference yang baru dirilis pada 2011 ini unggul jauh dari para pendahulunya, Google Hangout dan Microsoft Teams, serta Houseparty yang rilis pada 2016. 

Menurut Valencia Salim, mahasiswa Teknologi Pangan angkatan 2017 di Universitas Pelita Harapan, aplikasi teleconference Zoom lebih banyak digunakan karena fitur yang dimiliki lebih beragam dibandingkan dengan aplikasi teleconference lainnya, salah satunya fitur breakout room yang memungkinkan adanya grup-grup kecil dalam satu pertemuan. “Fitur ini cukup membantu, karena kalau di kuliah normal, biasanya kita juga ada kelompok-kelompok praktikum,” tuturnya.

Namun, dengan adanya Zoom, tidak berarti dosen hanya meminta mahasiswanya untuk melakukan tugas secara daring. Pengalaman lucu dialami Valencia ketika dosennya meminta untuk mengirimkan tugas bukan melalui surel ataupun portal kuliah daring, melainkan dalam bentuk paket yang dikirim dengan kurir ke kediaman dosennya di Bogor. 

Kebutuhan kuota internet yang melonjak

Dengan memanfaatkan aplikasi teleconference, kegiatan perkuliahan menjadi sangat tergantung pada koneksi internet. Perkuliahan akan sangat terganggu apabila dosen atau mahasiswa memiliki keterbatasan dalam akses internet ini. Entah sinyal yang hilang dan muncul kembali atau kuota yang cepat habis.

Jumlah Kuota Terpakai Penggunaan Aplikasi Teleconference 1 Jam
(Sumber data: Riset pribadi. Infografis interaktif akses di sini)

Skype menjadi yang paling boros kuota dibanding kompetitornya Zoom dan Google Hangout.  Google Hangout, sebagai aplikasi yang dirilis oleh Google, hanya tersedia sebagai aplikasi bawaan bagi ponsel dengan fitur Android, sedangkan Apple harus mengunduhnya terlebih dahulu. Selain faktor fasilitas, alasan ini pula yang bisa jadi mendasari banyak perguruan tinggi, terutama di Jakarta dan Tangerang yang lebih memilih menggunakan Zoom sebagai sarana kuliahnya. 

Beberapa kampus melakukan kerjasama dengan penyedia layanan internet sebagai solusi hemat untuk mahasiswanya. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Jakarta yang bekerjasama dengan XL dan Indosat. Mereka memberikan kuota internet sejumlah Rp50.000,00 /bulan terhitung dari April 2020 sampai semester genap berakhir di Juni 2020 secara cuma-cuma bagi mahasiswanya.

“Bantuan dari fakultas ini diberikan bagi seluruh mahasiswa supaya dapat mengikuti perkuliahan, tidak hanya bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan dalam mengakses internet. Kuotanya dapat diperoleh dengan melakukan pengajuan ke pihak fakultas,” jelas Febryan Sutomo, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2017 di Universitas Atma Jaya Jakarta.

Namun, kuota tersebut hanya dapat digunakan untuk membuka situs-situs yang mendukung sistem perkuliahan, seperti e-learning dan Microsoft Teams.

Tidak mudah, tetapi harus dihadapi

Proses adaptasi ini mau tidak mau harus dilakukan dan dihadapi oleh mahasiswa dalam masa pandemi ini. Tidak hanya mahasiswa, tetapi pendidik juga merasakan kesulitan dalam pelaksanaan kuliah online

Yunia Panjaitan, seorang dosen pengampu mata kuliah Analisis Laporan Keuangan di Universitas Atma Jaya Jakarta, menuturkan bahwa kebanyakan hambatan yang ia hadapi datang dari segi teknis. Salah satunya adalah masalah koneksi yang seringkali membuat perkuliahan menjadi macet. “Koneksi saya yang macet-macet itu sering dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk meninggalkan kelas sebelum perkuliahan selesai,” tuturnya. 

Tak hanya persoalan teknis, dengan bekerja dari rumah, dosen juga harus membagi perannya sebagai tenaga pengajar sekaligus orang tua. Hal ini dialami oleh Albertus Magnus, dosen pengampu beberapa mata kuliah jurnalistik di Universitas Multimedia Nusantara. “Saya punya anak berusia 1.5 tahun. Dia menangis saat ibunya sedang mandi sehingga saya harus mengajaknya ikut kuliah. Semua mahasiswa senang dan tertawa saat wajahnya muncul di layar laptop,” ceritanya melalui wawancara yang dilakukan via WhatsApp.

PJJ dapat digolongkan sebagai sistem baru bagi sebagian instansi pendidikan yang sebelumnya hanya melakukan perkuliahan tatap muka sehingga dalam pelaksanaannya tidak sedikit ditemukan kendala. Misalnya, waktu perkuliahan yang hanya dapat dilakukan dalam 40 menit karena keterbatasan durasi dari aplikasi teleconference sehingga materi tidak dapat dibahas sampai tuntas, jumlah tugas yang harus dikerjakan meningkat dengan waktu pengumpulan yang kurang disesuaikan, dan terhambatnya asistensi karya dalam bentuk fisik. Namun, jika dilihat dari perspektif lain, keadaan ini membuat mahasiswa harus belajar secara mandiri.

Mau tidak mau, senang tidak senang, kita harus bisa adaptif dalam menghadapi situasi pandemi ini. Amber Neely, Associate Editor dari Media Teknologi Apple Insider memberikan beberapa tips agar PJJ dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Jika dilihat dari konteks situasi, sistem PJJ ini dapat dikatakan efektif karena kegiatan belajar mengajar dan agenda kalender akademik tetap berjalan seperti biasanya. Namun, jika dari konteks kualitas, efektivitas perkuliahan online bergantung pada kedisiplinan setiap individu yang terlibat dan bagaimana menghadapi proses adaptasi yang terus berlangsung.

Kita semua tentu menunggu kapan pandemi Covid-19 ini berakhir, berharap untuk kembali beraktivitas seperti biasa lagi. Namun, lewat masa pandemi ini, setidaknya kita dipaksa untuk dapat memanfaatkan teknologi dengan lebih baik lagi, terutama dalam menunjang pendidikan. Jika sebelumnya kita seakan asing dengan aplikasi teleconference dan aplikasi yang membantu PJJ lainnya, sekarang kita mau tidak mau harus belajar menggunakannya. Ketika semua nanti menjadi normal, kita akan mendapat new normal itu: pendidikan berbasis teknologi yang mendukung pertemuan tatap muka.

‘Ledakan’ Pandemi di Korea Selatan dan Pentingnya Physical Distancing

“Hmm, nonton drama Korea apa ya?” gumamnya di depan layar. Kedua matanya terfokus ke mesin pencari dan jemarinya mencari-cari drama Korea yang akan dijadikannya pelepas penat usai mengerjakan soal ujian. 

Queenshell Lovevinca (20) seorang mahasiswi jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara, kini tengah menjalani Ujian Tengah Semester via online. Ya, kebijakan itu dilakukan oleh kampusnya sebagai upaya pencegahan penularan wabah COVID-19 yang jumlah penderitanya terus bertambah dan tidak terkontrol setiap harinya, termasuk di Indonesia. Kebijakan ini kita kenal sebagai self quarantine atau physical distancing

Grafik 1.1 Jumlah Pasien Positif COVID-19 di Seluruh Dunia
(22 Januari – 25 Maret 2020)

Sumber Data: Data Repository by Johns Hopkins CSSE. Infografis interaktif akses di sini.

Hasil pencarian yang muncul di layar laptop ketika ia mengetik “drama Korea” berhasil menyita perhatiannya. “Save Me, Seri Drama Korea yang Membahas Sekte Sesat di Korea Selatan” begitu judul berita yang ditulis Yahoo Indonesia pada 2 Maret lalu. Dengan penasaran, ia mengklik laman berita itu. 

Alih-alih menonton drama Korea, perempuan itu justru akhirnya mencari tahu tentang aliran kepercayaan Shincheonji yang ditulis pada lead berita tersebut sebagai sumber penyebaran utama COVID-19 di Korea Selatan. 
Pada 11 Maret 2020, WHO (World Health Organization) telah menetapkan wabah COVID-19 sebagai pandemi, yaitu wabah yang terjadi di banyak negara dan bersifat menular. Hingga 25 Maret 2020, COVID-19 telah menginfeksi 935.188 orang di hampir seluruh dunia. Wabah yang pertama kali dideteksi terinfeksi di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok ini disebabkan oleh virus Sars-COV-2 yang menyerang saluran pernapasan dan menular dengan sangat cepat dan mudah lewat air liur.

Grafik 1.2 Perbandingan Pasien Dalam Perawatan, Meninggal, dan Sembuh
dari Pandemi COVID-19 (22 Januari – 25 Maret 2020)

Sumber Data: Data Repository by Johns Hopkins CSSE. Infografis interaktif akses di sini.

Shincheonji sendiri adalah organisasi kontroversial yang giat dicap sebagai kultus dan diduga sering menyusup ke gereja lain untuk menjaring pengikut. Pada 2014, kelompok tersebut dilaporkan memiliki lebih dari 120.000 anggota. Sementara pada 2020, diperkirakan sekitar 200.000 anggota. Anggota kultus ini diajarkan untuk percaya pada Lee Man-hee, pendirinya yang mengaku sebagai nabi baru. 

Kultus ini mendadak kembali viral setelah ditemukan bahwa salah satu kasus yang menyebabkan terjadinya ledakan penyebaran virus ini di Korea Selatan, yaitu oleh salah satu anggotanya yang dikenal sebagai “pasien ke-31” di Daegu, Korea Selatan. Pasien itu digelari media sebagai super-spreader karena telah menginfeksi lebih dari 5000 orang di seluruh Korea Selatan. 

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Sebuah fakta ditemukan bahwa kultus ini memiliki cara peribadatan yang sangat memungkinkan terjadinya penularan virus secara masif. Ribuan anggotanya akan duduk bersama di lantai, dengan jarak yang hanya 5 sentimeter antara satu bahu dan bahu yang lain. Ditambah lagi, mereka akan sangat sering mengucap kata “Amin” secara bersama-sama dalam peribadatan ini. Pasien ke-31 yang sudah terinfeksi COVID-19 ini dilacak sempat dua kali hadir dalam peribadatan itu, yakni pada 9 Februari dan 16 Februari 2020. 

Korea Selatan sendiri mengumumkan pasien terinfeksi pertamanya pada 20 Januari 2020 dan baru mencapai jumlah 31 pasien pada 18 Februari. Setelah pasien ke-31 itu terbukti positif terinfeksi COVID-19 pada 18 Februari 2020, petugas medis di Korea Selatan segera menelusuri (tracing) riwayat kemungkinan penyebarannya. Korea Selatan kemudian mengumumkan lonjakan drastis pasien terinfeksi COVID-19 hanya beberapa hari setelahnya. Dari yang sebelumnya hanya bertambah satu setiap hari, pada 20 Februari 2020, kini lonjakan terjadi hampir tiga kali lipat menjadi 104 pasien terinfeksi. Jumlah ini terus berlipat ganda hingga sekarang. 

Grafik 1.3 Grafik Jumlah Pasien Positif COVID-19 di Korea Selatan
(22 Januari – 25 Maret 2020)

Sumber Data: Data Repository by Johns Hopkins CSSE. Infografis interaktif akses di sini.

“Pantas saja kasus di Korea Selatan melonjak sebesar itu. Ditambah lagi si pasien ke-31 ini pergi beribadah, ke pasar, hotel, dan pakai kendaraan umum juga,” gumam Queenshell.

Kasus yang hampir mirip juga terjadi di Malaysia. Mereka mengumumkan 190 kasus baru pasien terinfeksi COVID-19. Sebagian besar kasus tersebut berhubungan dengan acara Tabligh Akbar digelar di Masjid Sri Petaling, Kuala Lumpur pada 28 Februari hingga 1 Maret 2020 dan melibatkan 16.000 peserta yang berasal dari beberapa negara, termasuk 696 WNI, 13 di antaranya dinyatakan positif. 

Sama halnya dengan Korea Selatan, setelah pasien terinfeksi menularkan di kegiatan yang melibatkan banyak orang terdeteksi, grafik kasus positif COVID-19 langsung melonjak tajam.

 Grafik 1.4 Jumlah Pasien Positif COVID-19 di Malaysia
(22 Januari – 25 Maret 2020)

Sumber Data: Data Repository by Johns Hopkins CSSE. Infografis interaktif akses di sini.

Dari kasus pandemi yang sudah tersebar di kedua negara ini, kita bisa menemukan sebuah persamaan, yaitu penyebarannya akan terjadi secara masif dalam perkumpulan berskala besar. Sudah seharusnya sebagai warga negara dan warga dunia, kita turut ambil bagian dalam mencegah penularan wabah ini. Walaupun tidak menunjukkan gejala sakit, kita bisa saja sudah terinfeksi COVID-19, mengingat sebuah studi di Jepang menunjukkan dalam beberapa temuan terakhir orang yang terinfeksi wabah ini tidak menunjukkan gejala sama sekali.  

Oleh karena itu, negara-negara, termasuk Indonesia, sangat menggencarkan imbauan untuk tetap tinggal di rumah bagi warga-warganya dan melakukan physical distancing. Bahkan di beberapa negara, termasuk Malaysia, dilakukan lockdown untuk membatasi aktivitas warganya di luar rumah.

Perdana Konser di Jakarta, Lukas Graham Kisahkan Masa Kecilnya

Artikel ini telah dipublikasikan di:

https://radio.umn.ac.id/perdana-konser-di-jakarta-lukas-graham-kisahkan-masa-kecilnya/

Jakarta baru saja kedatangan Lukas Graham dalam konser perdananya tadi malam (01/10) dengan Hold My Hand sebagai lagu pembuka. Selama 90 menit konser berlangsung, penonton yang memenuhi The Kasablanka Hall, Mal Kota Kasablanka, mendapat kesempatan untuk mendengar kisah di balik lagu-lagu grup musik asal Denmark ini, seperti Not A Damn Thing Changed, Redemption Song, dan Funeral.

Tidak hanya mendendangkan lagu-lagu di album mereka, Lukas Forchhammer selaku frontman kerap berinteraksi dengan penonton dan membuat pertunjukan musik tersebut lebih hidup. Sebut saja, cerita-cerita kurang menyenangkan dari masa kecilnya. Dalam atmosfer yang dibalut nostalgia, pria kelahiran 1988 ini mengenang perjuangannya dalam mencari nafkah. “We didn’t have the government or the system that can really help us. So we have to help ourselves,” tuturnya.

Di balik semua itu Ultimafriends, Lukas mengaku masa kecilnya tetap layak disyukuri. Bagaimana pun, keluarganya selalu mengajarkan kasih sayang dan kebahagiaan di masa-masa sesulit apa pun. Masa lalu tersebut juga yang membuat ayah dari satu anak ini memahami bahwa materi bukanlah sumber utama kebahagiaan. “I wish I could teach my children that too because they don’t grow up like I did,” tambahnya sebelum menyanyikan lagu Happy Home yang mengisahkan tentang mendiang ayahnya.

Banyak berkaca pada perjalanan hidupnya, pria yang malam itu mengenakan batik motif garuda dan snapback hitam itu menyampaikan bahwa berbagi dengan sesama menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan, tak peduli hidup kekurangan maupun berkecukupan. “I bought myself a big house and what I’m trying to do instead of building fences is build the longer tables so I can feed more people,” ceritanya.

Lukas yang berkeliling dunia untuk Purple Tour sejak awal tahun ini sempat mengalami dilema mengingat ia sibuk berada di belahan dunia lain sedangkan anaknya berada di rumah. Pertanyaan retoris sempat terlontar, “On the other hand I’m making the money to make sure my daughter has a proper education. So it’s okay, right?”

Meski pekerjaan seringkali membuatnya jauh dari keluarganya, lagu yang berjudul Lullaby dalam Lukas Graham (Blue Album) menjadi bukti bahwa jarak tidak membuat hubungan dengan keluarganya menjauh. Semua ini tergambar dari intro lagu tersebut yang merupakan bunyi detak jantung sang buah hati, direkam sejak masih dalam kandungan dan ditulis pada dua minggu setelah anak tersebut lahir. Manis banget ya, Ultimafriends?

Sayangnya, penonton yang duduk di kategori Diamond VVIP dan Gold VIP tidak ikut sing along atau berdiri dari tempat duduk. Seakan-akan tersirat bahwa tidak semua penonton konser Lukas Graham tadi malam merasa excited dengan penampilan grup band asal Denmark ini.

Akhirnya terlontar pernyataan dari Lukas, “From where I from, nobody sits down on a concert,” yang juga merupakan ajakan untuk berdiri. Padahal, lagu-lagu yang dibawakan tidak terlalu asing seperti Drunk in The Morning, String No More, tidak lupa single yang baru dirilis beberapa hari lalu, Lie. Namun, lama kelamaan, tepatnya di penghujung konser, seisi The Kasablanka Hall kompak menyanyikan Love Someone dan membuat Lukas terkesima. Ia sampai berlutut dengan ekspresi speechless!

Masih banyak kota-kota yang akan dikunjungi Lukas Graham di The Purple Tour ini sampai akhirnya ia menutup konsernya di Copenhagen, Denmark. Semoga seluruh konsernya berjalan lancar dan dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan baik bagi Lukas maupun penggemarnya ya, Ultimafriends!

Kesalahpahaman Feminisme yang Masih Terjadi

Artikel ini sudah dipublikasikan di:

https://radio.umn.ac.id/kesalahpahaman-tentang-feminisme-yang-masih-terjadi/

Ultimafriends, kamu pasti sering banget denger orang-orang di sekitarmu mengucapkan kata feminisme’, kan? Bahkan nggak cuma denger, kemungkinan besar kamu udah lihat banyak banget orang-orang yang upload foto ketika mengikuti aksi feminisme, atau memberikan opini mereka tentang gerakan tersebut.

Pas lagi di kantin, nggak sengaja denger sekelompok orang di meja sebelah ngebahas feminisme yang artinya A. Besoknya pas lagi di mall, dengar anak muda ngomongin feminisme yang artinya B. Buka browser buat cari tahu arti sebenarnya, ada sumber yang bilang arti feminisme itu C.

Jadi arti feminisme itu sebenernya apa ya?

Feminisme adalah sebuah gerakan yang menuntut kesamaan serta keadilan hak antara pria dan wanita.

Istilah yang digunakan mulai 1890-an ini diwujudkan dalam sebuah parade yang mengangkat isu tentang pentingnya hak-hak perempuan yang sering kita dengar dengan nama Women’s March. Dimulai di ibu kota Amerika Serikat, Washington, D.C. pada 21-22 Januari 2017 lalu, parade ini juga udah dilakukan oleh masyarakat Indonesia di beberapa kota besar, lho, Ultimafriends, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali.

Kamu masih kurang paham tentang gerakan feminisme?

Nggak perlu khawatir, Ultimafriends karena tim reporter udah merangkum beberapa kesalahan berpikir mengenai feminisme yang sering terjadi di masyarakat supaya kamu nggak jadi salah satunya!

Feminisme tidak diperlukan lagi karena wanita sudah setara dengan laki-laki

Ultimafriends, kamu salah satu dari banyak orang yang berpikir kayak gini nggak, sih?

Begini, Ultimafriends, perempuan dan laki-laki itu kelihatannya aja udah menduduki posisi yang sama, tapi kenyataannya belum. Kenapa demikian?

Karena di negara berkembang, termasuk Indonesia, jumlah anak perempuan yang putus sekolah lebih tinggi daripada laki-laki. Masih banyak orang tua yang berpikir kalau anak perempuan lebih baik berada di rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah supaya ketika beranjak dewasa, mereka siap untuk menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga.

Nggak cuma itu Ultimafriends, hukum dan penegak hukum di Indonesia sendiri hampir nggak pernah memihak pada perempuan tiap kali terjadi kasus kekerasan seksual di mana perempuan yang menjadi korbannya. Malah perempuan yang disalahkan karena dianggap nggak bisa menjaga kehormatannya dengan mengenakan pakaian terbuka. Padahal kalau si pelaku bisa mengendalikan diri juga nggak akan terjadi kasus pemerkosaan kan, Ultimafriends?

Feminisme bukan misandry

Feminisme adalah ideologi yang mengajarkan perempuan untuk benci pada laki-laki.

Wah, nggak gitu ya, Ultimafriends! Feminisme nggak mengajarkan kebencian dan kekerasan terhadap siapa pun, dan seorang feminis bukan berarti anti terhadap laki-laki. Justru seorang feminis itu ingin dihargai sebagaimana dirinya menghargai laki-laki.

Pemahaman bahwa seorang feminis harus membenci laki-laki itu berasal dari seorang tokoh radikal feminis yang anti laki-laki, seperti Marilyn French yang mengatakan “all men are rapists and that’s all they are.” Nah, pandangan senada yang menganggap semua laki-laki pasti jahat ini yang seringkali dipahami sebagai feminisme. Tapi sebenarnya, gerakan ini bertujuan untuk menyetarakan hak perempuan dalam bidang politik, ekonomi, budaya, maupun ruang publik, Ultimafriends.

Hanya perempuan yang bisa jadi feminis

Perempuan dan laki-laki sama-sama bisa menjadi seorang feminis kok, Ultimafriends. Karena gerakan feminisme ini nggak cuma mengajak perempuan, melainkan juga laki-laki, untuk mengatasi masalah sehari-hari, seperti kekerasan rumah tangga, kekerasan seksual, dan ketidaksetaraan penghasilan.

Buat kamu yang perempuan, bisa meningkatkan kesadaran mereka sebagai laki-laki untuk menghargai lawan jenis, misalnya nggak melakukan cat-calling pas ada perempuan lewat di hadapannya, mau bantu nyokap pas ngerjain kerjaan rumah, nggak meremehkan perempuan ketika mereka melakukan pekerjaan yang biasanya cuma dilakukan sama laki-laki, atau memberikan respons positif dan mendukung temen perempuannya yang lagi belajar makeup.

Perempuan yang mengikuti gerakan feminisme nggak cuma membela diri mereka sendiri lho, Ultimafriends, melainkan juga membantu kaum LGBTQ dalam memperjuangkan haknya.

Feminis masih kolot dan kuno

Feminisme di abad 19 memang fokus terhadap kesetaraan hak sipil dan politik, tapi seiring dengan berkembangnya zaman, masa iya sih feminisme cuma memperjuangkan dua hal itu aja?

Jelas nggak dong, Ultimafriends.

Sekarang feminisme udah jauh berkembang dan menjadi paham yang melawan penindasan yang berkaitan dengan ras, seksualitas, dan jenis kelamin. Perkembangan zaman yang terus berkembang membuat gerakan ini ikutan berkembang, Ultimafriends, dengan lebih cenderung memberi saran dan pengertian kepada orang-orang untuk menyediakan ruang bagi mereka yang menjadi minoritas dalam bidang ekonomi, sosial, gender, ras, dan seksual. Misalnya, bagi mereka yang muslim bisa memanfaatkan gerakan feminisme untuk mengubah mindset masyarakat dunia mengenai teroris yang merupakan bagian dari pemeluk agama Islam.

Feminis nggak suka perempuan yang berpenampilan feminin

Siapa bilang kalau cuma perempuan tomboy yang bisa jadi seorang feminis?

Ultimafriends, yang harus kamu ketahui adalah berpenampilan tomboy atau feminin merupakan pilihan setiap perempuan untuk mengekspresikan dirinya melalui gaya berpakaian dan bukan sesuatu yang menjadi hambatan dalam mendukung gerakan ini. Jadi sama sekali nggak ada hubungannya ya. Semua perempuan yang terlibat dalam gerakan feminisme ini memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk memperoleh kesetaraan gender antara dirinya dengan laki-laki tanpa memedulikan kamu mau pakai sneakers atau high heels.

Nah, sekarang kamu pasti udah lebih paham tentang feminisme kan, Ultimafriends? Jangan sampai salah berpikir tentang gerakan ini lagi ya, kalau perlu bantu orang-orang di sekitarmu untuk memahaminya.

Lily Collins Ceritakan Proses Syuting Emily in Paris

Artikel ini telah dipublikasikan di

https://www.herworld.co.id/article/2020/10/15667-Lily-Collins-Ceritakan-Proses-Syuting-Emily-in-Paris

Emily in Paris merupakan serial komedi yang baru dirilis oleh Netflix pada Jumat (02/10/20) lalu dan berhasil menduduki peringkat satu di seluruh dunia. Bercerita tentang kisah Emily Cooper saat pindah ke Paris sebagai social media manager dalam sebuah perusahaan marketing, Lily Collins yang memerankan karakter tersebut memiliki ceritanya sendiri selama melakukan proses syuting di Paris selama empat bulan.

Kepada Kelly and Ryan, Lily menceritakan bahwa hampir seluruh kru dan pemain dari serial ini merupakan orang Prancis sehingga ia dan Ashley Park, pemeran Mindy yang juga keturunan Korea-Amerika, berkesempatan untuk melihat Paris dari kacamata karakter yang mereka perankan.

“Kami dan seluruh kru tidak menyangka bisa berkesempatan untuk syuting di berbagai lokasi yang sebelumnya tidak dibayangkan,” tuturnya.

Bahkan, wanita yang juga berperan dalam Mirror Mirror ini mengalami hal serupa dengan karakter Emily, seperti air panas di apartemennya yang tiba-tiba mati. Hal ini membuatnya bertanya-tanya kepada Darren Star selaku produser, apakah mereka melakukan ini dengan sengaja sebagai bagian dari pendalaman karakter.

Karakter Emily dibangun sebagai seorang wanita dengan gaya berpakaian yang stylish, menyukai fotografi, dan mengunggah foto-fotonya di media sosial dengan berbagai caption unik. Ia juga dikenal sebagai sosok yang kritis terhadap isu sosial dan Lily menghargai sisi tersebut.

“Saya merasa itulah yang kita lakukan sekarang, melihat ke dalam diri dan belajar untuk mengedukasi diri sendiri sambil berharap agar dapat melakukan hal serupa ke orang lain dengan penuh kasih. Banyak percakapan yang akhir-akhir ini harus kita lakukan sebagai refleksi dengan diri sendiri, seperti Black Lives Matter dan voting. Hal ini yang membuat kita bertumbuh,” ujarnya.

Menariknya, karakter Emily Cooper dalam serial ini tidak dapat berbahasa Perancis dan hal tersebut justru bertolak belakang dengan Lily yang mempelajari bahasa tersebut selama hidupnya. Ia menyatakan bahwa dulu cukup sering berbicara dan membaca dengan lancar dalam bahasa Perancis, tetapi kini sudah berhenti berlatih.

“Kalau ada season kedua, saya ingin kembali belajar bahasa Perancis untuk membuat karakter Emily fasih di dalamnya karena sebenarnya sulit untuk akting tidak mengerti apapun saat realitanya saya cukup menguasai,” ceritanya.

Dalam suatu adegan, di mana terdapat kesamaan lokasi syuting dengan serial Sex and The City yang berlokasi di Hotel Plaza Athénée, Lily merasa bahwa di sanalah season terakhir dari serial tersebut tinggal dan kini Emily in Paris dapat memberikan kehidupan baru di dalamnya dengan aspek berbeda yang dimiliki oleh Emily.

Namun, kesedihan juga dirasakannya karena project terbarunya tayang dalam situasi pandemi sehingga tidak memungkinkan untuk traveling.

“Rasanya asing saat saya menonton, mengingat momen sewaktu berada di Paris, dan melihat situasi saat ini karena itu semua dilakukan sebelum ini berlangsung selama enam bulan terakhir,” ucap wanita 31 tahun itu. Ia berharap dapat kembali mengunjungi Paris dan menghabiskan waktu di sana.