Apa Arti Sustainable Fashion Jika Konsumen Tidak Mengurangi Pembelian?

Saat menumpangi Transjakarta sebelum pandemi melanda, saya sering mendapati kaum muda masuk ke dalam bus dari Halte Pasar Senen dan Pasar Baru. Mereka membawa tas plastik berukuran besar yang saya yakini isinya adalah pakaian bekas. Maklum, thrift shopping mulai menjadi opsi utama untuk berbelanja, entah barangnya digunakan untuk kepentingan pribadi atau dijual lagi dengan pemasaran di Instagram.

Tren tersebut muncul sejak industri fesyen diramaikan dengan istilah sustainable fashion. Ketika praktik fast fashion dinilai merusak lingkungan dan mengeksploitasi tenaga kerja, para penggemar trendsetter mulai mencari cara untuk tetap mengikuti gaya busana terkini sembari meminimalisir kerugian berbagai sektor yang terlibat dalam produksi pakaian.

Praktik tersebut cukup mengejutkan bagi saya yang waktu itu belum begitu paham dengan dunia fashion, lantaran pakaian dari Zara, Stradivarius, Topshop, H&M, Uniqlo, dan sederet merek lainnya dianggap bergengsi pada 2015 lalu—setidaknya di lingkungan pertemanan saya sewaktu SMA. Untungnya saya bukan pelanggan setia dari merek-merek tersebut. Rasa ingin tahu lebih dalam tentang sustainable fashion pun muncul karena saya pikir permasalahan industri ini tak terselesaikan hanya dengan meninggalkan fast fashion yang sangat digandrungi itu.

Awalnya terdengar rumit, tetapi usai membaca berbagai artikel fesyen, saya menemukan beberapa cara untuk menciptakan sustainable fashion dengan cara-cara sederhana, seperti merawat pakaian yang dimiliki, menyumbangkan pakaian layak pakai atau menjualnya di thrift shop, investasi pada pakaian yang bersertifikasi bluesign, memilih bahan pakaian alami, investasi pada pakaian berkualitas baik maupun slow fashion, dan membeli pakaian secondhand.

Lalu saya bertanya-tanya, apakah dengan menerapkan cara-cara tersebut sudah cukup untuk menciptakan sustainable fashion?

Jawabannya belum. Semua upaya tersebut belum maksimal apabila kita tidak berusaha untuk mengurangi pembelian. Mungkin kita sering membaca mantra buy less and buy better tanpa memaknai artinya. Padahal, mantra tersebut merupakan kunci meninggalkan kerusakan berbagai lapisan kehidupan seminim mungkin. Kita perlu membentuk sebuah kebiasaan sebelum berbelanja pakaian, yaitu bertanya pada diri sendiri: “Apa yang saya beli? Mengapa saya membeli barang ini? Apakah saya sangat membutuhkannya? Apakah saya akan sering mengenakannya?”

Tentunya hal tersebut juga berlaku untuk pembelanjaan pakaian melalui thrift shop. Meskipun produk yang dibeli adalah bekas pakai, tidak serta merta kita telah mendukung sustainable fashion, mengingat adanya pembelian yang dilakukan dengan tujuan memiliki pakaian yang sesuai dengan tren. Terutama harga terjangkau yang justru memicu untuk bertindak impulsif. Terlebih lagi, dalam praktik fesyen berkelanjutan terdapat urutan penggunaan pakaian; mengenakan yang dimiliki, pinjam, tukar, sewa, beli bekas, buat, dan beli. Oleh karena itu, kita perlu bersifat selektif sebelum melakukan pembelian.

Berbicara tentang selektif, beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel di Refinery29 tentang sustainable fashion. Ternyata, terdapat toko-toko pakaian menggemaskan di Instagram yang ‘menerangkap’ calon konsumennya dengan embel-embel ‘sustainable’ ‘eco-friendly’ atau ‘green’. Setelah membaca keterangan toko di bagian about situsnya, ternyata pakaian yang dijual sama sekali tidak ramah lingkungan. Untuk memastikan pakaian yang hendak dibeli mendukung sustainable fashion, ada baiknya kita memverifikasi dengan menghubungi toko terkait bahan yang digunakan dan cara produksi mereka. Dari sini saya tahu bahwa background checking sebuah toko itu cukup penting.


Alexandra Horigan, Vice President of Strategic Initiatives dari Aspiration—sebuah perusahaan financial partner yang mendukung bisnis independen dan bertanggung jawab terhadap lingkungan, melihat bahwa bukan hanya barang yang dibeli yang memiliki dampak pada lingkungan, melainkan juga dana yang mengalir untuk merek dan perusahaan tersebut. Artinya, secara tidak langsung kita telah membantu usaha mereka dengan membeli produknya.

Mendukung sustainable fashion mungkin terlihat kompleks, tetapi dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dengan adanya kesadaran bahwa praktik ini bertujuan untuk menyatukan berbagai kalangan di industri fesyen. Dengan demikian, kita sudah selangkah lebih maju untuk mengubah industri tersebut ke arah yang lebih baik.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s